• Diriwayatkan dari Jubair bin Muth'in R.A, bahwasanya ia pernah mendengar Rasulullah SAW. bersabda,
  • Sabda Rasulullah SAW : “Barang siapa meniru suatu kaum , maka ia termasuk kaum itu.” (HR. Abu Daud, dan sanadnya diperkuat oleh Ibnu Taimiyah)
  • Doa merupakan salah  satu bentuk ibadah, sesuai dengan sabda Rasulullah saw., ”Doa itu adalah ibadah” (H.R. Tirmidzi). Sebagai suatu ibadah, berdoa hendaknya dilakukan dengan cara yang baik dan benar sebagai berikut.
  • Hanya tinggal menghitung minggu, Ramadhan insya Allah datang menghampiri kita. Adalah Ramadhan, Ia bertelaga bening Airnya mutiara maghfiroh, Gericiknya dzikir & tadarrus/
  • Bulan Suci umat Islam kini telah tiba, tepat dihari pertama kita menjalankan ibadah puasa ini mudah-mudahan kita selalu diberikan kesehatan lahir serta batin Oleh Alloh SWT Aamiin..
  • Bulan ramadhan merupakan bulan yang sangat dimukiakan oleh Allah SWT, dengan berbagai macam keistimewahan..
  • “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan dengan keimanan dan pengharapan akan ridha Allah, akan diampuni dosa-dosanya yang terdahulu.”
  • “
Download Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1433 H untuk kota Bandung, Jakarta, Medan, Surabaya, Makassar, Yogyakarta”
  • Diriwayatkan dari Ali Bin Abi Thalib ra bahwasanya berkata ia : Nabi Muhammad SAW pernah ditanya tentang kelebihan Shalat Tarawih di Bulan Ramadhan, maka beliaw bersabda :
  • Berikut Merupakan Keutamaan Sholat Tarawih di Malam yang ke 8. Mudah - mudah saja di malam kedelapan ini kita bisa mendapatkan keutamaan tersebut Aamiin ya Rabbal Aalamiin..
  • Pada postingan di hari sebelumnya saya belum posting keutamaan shalat tarawih di malam yang ke sembilan dan sekarang udah masuk lagi di malam yang ke sepuluh,, Subhanalloh luar biasa Allohu akbar..
  • Alhamdulillah kita sampai di malam yang ke 11, mudah-mudahan di malam yang ke sebelas ini kita bisa mendapatkan keutamaan Sholat tarawih sesuai dengan yang Diriwayatkan dari Ali Bin Abi Thalib ra bahwasanya
  • Berikut Merupakan keutamaan Sholat Tarawih di Malam Ke-12 sampai 13
  • Berikut Merupakan keutamaan Sholat Tarawih di Malam Ke-14 sampai 15
  • Berikut Merupakan keutamaan Sholat Tarawih di Malam Ke-16 sampai 21
  • Berikut Merupakan keutamaan Sholat Tarawih di Malam Ke-22 sampai 24
  • Berikut Merupakan keutamaan Sholat Tarawih di Malam Ke-25 sampai 27
  • Berikut Merupakan keutamaan Sholat Tarawih di Malam Ke-28 sampai 30

Sabtu, 10 Mei 2014

Sudahkah Aku Mendapat Hidayah…??

0 komentar
Pernahkah kamu merubah seseorang..??
Bagaimanakah cara merubah seseorang agar orang tersebut menjadi baik..??



Para pembaca yang semoga dirahmati Allah ta’ala, mungkin kita sering berfikir, sudah banyak sekali cara kita untuk menyadarkan seseorang yang kita cintai, untuk merubah sifat seseorang yang sangat disayangi. Akan tetapi, segala cara dan upaya kita, ternyata tidak mampu untuk merubahnya menjadi seseorang yang baik. Sebenarnya apa yang salah dengan upaya kita, bagaimanakah caranya agar kita dapat merubah seseorang?

Mengenai hal ini, perlu kita ketahui, bahwa hidayah atau petunjuk hanyalah milik Allah, bagaimana pun upaya kita untuk merubah seseorang, bagaimana pun kerja keras kita untuk menyadarkan seseorang, maka itu tidak ada artinya jika Allah tidak menghendaki hidayah kepadanya, orang tersebut tidak akan berubah sampai Allah memberikannya hidayah.

Yang diwajibkan dan diperintahkan ke kita adalah terus menyampaikan seruan kebaikan kepada semua manusia. Sedangkan hasilnya, apakah orang tersebut akan berubah dan akan mendapatkan hidayah, semua itu serahkan kepada Allah Subhanahu Wata’ala dan bertawakallah hanya kepada-Nya.

Allah berfirman yang artinya “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Alloh memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Alloh lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS Al Qashash: 56).

Ibnu katsir mengatakan mengenai tafsir ayat ini, “Allah mengetahui siapa saja dari hambanya yang layak mendapatkan hidayah, dan siapa saja yang tidak pantas mendapatkannya”.

Syaikh Muhammad ibnu Shalih Al-Utsaimin menerangkan, “Hidayah di sini maknanya adalah hidayah petunjuk dan taufik. Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan hidayah ini kepada orang yang pantas mendapatkannya, karena segala sesuatu yang dikaitkan dengan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka mesti mengikuti hikmah-Nya.”

Nabi Yang Mulia Sendiri Tidak Dapat Memberi Hidayah Taufik

Turunnya ayat ini berkenaan dengan cintanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada pamannya Abu Tholib. Akan tetapi, segala cara dan upaya yang dilakukan beliau untuk mengajak pamannya kepada kebenaran, tidak sampai membuat pamannya menggenggam Islam sampai ajal menjemputnya. Seorang rosul yang kita tahu kedudukannya di sisi Allah saja tidak mampu untuk memberi hidayah kepada pamannya, apalagi kita yang keimanannya sangat jauh dibandingkan beliau.

Tidakkah kita melihat perjuangan Nabi Allah Nuh di dalam menegakkan tauhid kepada umatnya? Waktu yang mencapai 950 tahun tidak dapat menjadikan umat nabi Nuh mendapatkan hidayah Allah, bahkan untuk keturunannya sendiri pun ia tidak dapat menyelamatkannya dari adzab,

Allah berfirman yang artinya “Dan Nuh memanggil anaknya yang berada di tempat yang jauh, ‘Wahai anakku! Naiklah bahtera ini bersama kami dan janganlah kamu bersama orang-orang kafir’. Dia berkata, ‘Aku akan berlindung ke gunung yang akan menghindarkanku dari air bah. Nuh berkata, ‘Hari ini tidak ada lagi yang bisa melindungi dari adzab Allah kecuali Dzat Yang Maha Penyayang.’ Dan gelombang pun menghalangi mereka berdua, maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.” (QS. Hud:42-43)

Melihat anaknya yang tenggelam, Nabi Nuh berdoa (yang artinya),“Dan Nuh pun menyeru Rabbnya, ‘Wahai Rabbku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji-Mu adalah janji yang benar, dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.’ Allah berfirman, ‘Wahai Nuh, sesungguhnya dia bukan termasuk keluargamu (yang diselamatkan), sesungguhnya amalannya bukanlah amalan yang shalih. Maka janganlah engkau meminta kepada-Ku sesuatu yang tidak engkau ketahui. Sesungguhnya Aku peringatkan engkau agar jangan termasuk orang-orang yang jahil.” (QS. Hud: 45-46)

Contoh lainnya adalah apa yang dialami oleh Nabi Allah, Ibrohim. Berada ditengah-tengah orang-orang yang menyekutukan Allah, ia termasuk orang yang mendapat petunjuk. Allah dengan mudahnya memberikan hidayah kepada seseorang yang dikehendakinya, padahal tidak ada seorang pun yang mengajarkan dan menerangkan kebenaran kepadanya, Allah berfirman yang artinya “Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan yang ada di langit dan di bumi, agar dia termasuk orang-orang yang yakin. Ketika malam telah gelap, dia melihat bintang, lalu berkata, ‘Inilah rabbku’. Tetapi tatkala bintang itu tenggelam, dia berkata, ‘Aku tidak suka pada yang tenggelam’. Kemudian ketika dia melihat bulan terbit, dia berkata, ‘Inilah rabbku’. Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata, ‘Sesungguhnya jika Rabbku tidak memberi petunjuk padaku, pasti aku termasuk orang-orang yang sesat. Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata, ‘Inilah rabbku, ini lebih besar’. Tatkala matahari itu terbenam, dia pun berkata, ‘Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan! Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang menyekutukan-Nya’.” (QS. Al-An’am: 75-79)

Dari hal ini, sangat jelaslah bagi kita, hidayah hanyalah milik Allah, dan Allah memberi hidayah kepada orang yang dikehendakinya. Barangsiapa yang Allah beri hidayah, tidak ada seorang pun yang bisa menyesatkannya dan barangsiapa yang telah Allah sesatkan, tidak ada seorang pun yang bisa memberi hidayah kepadanya. Allah berfirman yang artinya “Allah memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.” (QS. Al-Baqarah: 213) dan Allah berfirman yang artinya “Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemberi petunjuk.” (QS. Az-zumar:23).

Apabila kita ingin memberikan hidayah kepada seseorang dan kita kumpulkan seluruh manusia untuk membantu usaha kita, niscaya tidak lah akan ada gunanya karena memang hak hidayah sepenuhnya di tangan Alla ‘Azza wajalla. Namun kita hanya di seru dan diperintah untuk menyampaikan kebenaran secara terus menerus maka laksanakanlah dengan ikhlas dan iringilah dengan doa, semoga hidayah Allah untuk kita semua dan untuk semua orang yang kita serukan kebaikan.

Cara Menggapai Hidayah

Setelah mengetahui hal ini, lantas bagaimana upaya kita untuk mendapatkan hidayah? Bagaimana caranya membuat orang lain mendapatkan hidayah?

Di antara sebab-sebab seseorang mendapatkan hidayah adalah:

1. Bertauhid
Seseorang yang menginginkan hidayah Allah, maka ia harus terhindar dari kesyirikan, karena Allah tidaklah memberi hidayah kepada orang yang berbuat syirik. Allah berfirman yang artinya “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kesyirikan, mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-an’am:82).

2. Taubat kepada Allah
Allah tidak akan memberi hidayah kepada orang yang tidak bertaubat dari kemaksiatan, bagaimana mungkin Allah memberi hidayah kepada seseorang sedangkan ia tidak bertaubat? Allah berfirman yang artinya “Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertaubat kepada-Nya”.

3. Belajar Agama
Tanpa ilmu (agama), seseorang tidak mungkin akan mendapatkan hidayah Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya “Jika Allah menginginkan kebaikan (petunjuk) kepada seorang hamba, maka Allah akan memahamkannya agama” (HR Bukhori)

4. Mengerjakan apa yang diperintahkan dan menjauhi hal yang dilarang.
Kemaksiatan adalah sebab seseorang dijauhkan dari hidayah. Allah berfirman yang artinya “Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka),dan kalau demikian, pasti Kami berikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi Kami,dan pasti Kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus.” (An-nisa: 66-68).

5. Membaca Al-qur’an, memahaminya mentadaburinya dan mengamalkannya.
Allah berfirman yang artinya “Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus” (QS. Al-Isra:9)

6. Berpegang teguh kepada agama Allah
Allah berfirman yang artinya “Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Ali-Imron:101).

7. Mengerjakan sholat.
Di antara penyebab yang paling besar seseorang mendapatkan hidayah Allah adalah orang yang senantiasa menjaga sholatnya, Allah berfirman pada surat Al-Baqoroh yang artinya “Aliif laam miim, Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya dan merupakan petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.”
Siapa mereka itu, dilanjutkan pada ayat setelahnya “yaitu mereka yang beriman kepada hal yang ghoib, mendirikan sholat dan menafkahkah sebagian rizki yang diberikan kepadanya” (QS. Al-baqoroh:3).

8. Berkumpul dengan orang-orang sholeh
Allah berfirman yang artinya “Katakanlah: “Apakah kita akan menyeru selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kemanfaatan kepada kita dan tidak (pula) mendatangkan kemudharatan kepada kita dan (apakah) kita akan kembali ke belakang, sesudah Allah memberi petunjuk kepada kita, seperti orang yang telah disesatkan oleh syaitan di pesawangan yang menakutkan; dalam keadaan bingung, dia mempunyai kawan-kawan yang memanggilnya kepada jalan yang lurus (dengan mengatakan): “Marilah ikuti kami.” Katakanlah:”Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya) petunjuk; dan kita disuruh agar menyerahkan diri kepada Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An’am:71).

Ibnu katsir menafsiri ayat ini, “Ayat ini adalah permisalan yang Allah berikan kepada teman yang sholeh yang menyeru kepada hidayah Allah dan teman yang jelek yang menyeru kepada kesesatan, barangsiapa yang mengikuti hidayah, maka ia bersama teman-teman yang sholeh, dan barang siapa yang mengikuti kesesatan, maka ia bersama teman-teman yang jelek. “

Maka carilah sahabat yang mengajakmu ke pintu hidayah, carilah mereka yang mengajakmu ke syurga dan jauhilah mereka yang mengajakmu ke neraka.

Dengan mengetahui hal tersebut, marilah kita berupaya untuk mengerjakannya dan mengajak orang lain untuk melakukan sebab-sebab ini, semoga dengan jerih payah dan usaha kita dalam menjalankannya dan mendakwahkannya menjadi sebab kita mendapatkan hidayah Allah.

Syaikh Abdullah Al-bukhori mengatakan dalam khutbah jum’atnya “Semakin seorang meningkatkan ketaqwaannya kepada Allah, niscaya bertambah hidayah padanya. Seorang hamba akan senantiasa ditambah hidayahnya selama dia senantiasa menambah ketaqwaannya. Semakin dia bertaqwa, maka semakin bertambahlah hidayahnya, sebaliknya semakin ia mendapat hidayah/petunjuk, dia semakin menambah ketaqwaannya. Sehingga dia senantiasa ditambah hidayahnya selama ia menambah ketaqwaannya.”
Semoga Allah senantiasa memberikan hidayah kepada kita dan orang-orang yang ada disekeliling kita, aamiin.

Washallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in.
Semoga ada manfaatnya,
Allahu Ta’ala A’lam


referesni full:http://diaryislam.wordpress.com/2013/02/02/sudahkah-aku-mendapat-hidayah/

Rabu, 26 Maret 2014

Bahaya Arak dan Sesuatu yang Memabukkan

1 komentar
Apakah Minum Arak Dapat Membawa Pelakunya Pada Puncak Kejahatan..??

Inilah BAHAYANYA ARAK, KHAMR DAN SEGALA SESUATU YANG MEMABUKKAN
 


Dosa manakah, minum-minuman yang memabukkan, berzina atau membunuh.

Itulah teka-teki sebagai inti khutbah khalifah Ustman bin Affan Radhiallahu Anhu seperti yang diriwayatkan oleh Az-Zuhriy, dalam khutbah Ustman itu mengingatkan umat agar berhati-hati terhadap minuman khamr atau arak. Sebab minuman yang memabukkan itu sebagai pangkal perbuatan keji dan sumber segala dosa.

Dulu hidup seorang ahli ibadah yang selalu tekun beribadah ke masjid, lanjut khutbah khalifah Ustman.
Suatu hari lelaki yang sholeh itu berkenalan dengan wanita cantik.

Karena sudah jatuh hati, lelaki itu menurut saja ketika disuruh memilih antara tiga permintaannya, tentang kemaksiatan.
Pertama minum khamr, kedua berzina, dan ketiga membunuh bayi.

Mengira minum arak dosanya lebih kecil daripada dua pilihan lain yang diajukan wanita pujaan itu, lelaki sholeh itu lalu memilih minum khamr.

Tetapi apa yang terjadi, dengan minum arak yang memabukkan itu malah dia melanggar dua kejahatan yang lain. Dalam keadaan mabuk dan lupa diri, lelaki itu menzinai pelacur itu dan membunuh bayi di sisinya.

“Karena itulah hindarilah khamr, karena minuman itu sebagai biang keladi segala kejahatan dan pebuatan dosa. Ingatlah, iman dengan arak tidak mungkin bersatu dalam tubuh manusia. Salah satu diantaranya harus keluar. Orang yang mabuk mulutnya akan mengeluarkan kata-kata kufur, dan jika menjadi kebiasaan sampai akhir hayatnya, ia akan kekal di neraka.”

Sungguh Allah menurunkan masalah minuman keras (Arak dan lain-lain) dengan tiga ayat,

Firmanya:

“Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang khamar dan judi. Katakanlah, “Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia. Tetapi dosanya lebih besar daripada manfaatnya.” ………….. ” (QS. Al-Baqarah : 219)


Orang Islam ada yang minum arak dan ada yang tidak, bahkan ada pria menjalankan shalat dalam keadaan mabuk. Maka turunlah firman Allah Ta’ala :

“Wahai orang yang beriman! janganlah kamu mendekati shalat, ketika kamu dalam keadaan mabuk, ………. ” (QS. An-Nisa’ ; 43)

Umar Radhiallahu Anhu —saat itu— masih minum khamr. Dalam keadaan mabuk ia mengambil rahang unta dan di pukulkan ke Abdurrahman bin Auf Radhiallahu anhu. Ia meratapi para pahlawan yang gugur di medan perang Badar. Berita ini sampai ke Rasulullah Shalallahu alaiahi wa Sallam. Ia pun keluar dalam keadaan marah sambil menyeret selendangnya dan mengangkat sesuatu dari tangannya lalu memukulkan ke Umar Rhadiallahu Anhu. Dan umar Rhadiallahu anhu berkata ; “Aku berlindung kepada Allah dari kemurkaan-Nya dan kemarahan rasul-Nya.”

kemudian Allah menurunkan firman-Nya;

“Dengan minuman keras dan judi itu, setan hanyalah bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu, dan menghalang-halangi kamu dari mengingat Allah dan melaksanakan shalat maka tidakkah kamu mau berhenti? ” (QS. Al-Ma’idah ; 91)

Al kisah Ummu Salamah Rhadiallahu anha : (Putrinya sakit ia kemudian membuat obat berupa arak dari perasan kurma), lalu Nabi Shalallahu Alaihi wa sallam bersabda : “sesungguhnya Allah tidak menjadikan obat umatku dari apa-apa yang sudah Dia haramkan”

Untuk itu jauhilah minuman keras, karena sungguh . . . Allah tidak menjatuhkan iman dalam dada seseorang yang mabuk.

Wallahu A’lam

Semoga Bermanfaat.

http://diaryislam.wordpress.com/2013/02/01/bahaya-arak-dan-sesuatu-yang-memabukkan/

Rabu, 19 Maret 2014

Penyebab Hati Menjadi Mati

1 komentar

Berikut 10 Penyebab Hati Menjadi Mati

Apabila Hati Sudah Mati , Maka ia tidak akan mampu membedakan perbuatan baik dan buruk, tidak tau lagi mana itu dosa dan mana itu pahala.

Ibarat Jazad yang mati maka jasad sudah tidak merasakan bila tubuhnya disakiti.

Begitu Pula Hati bila mati maka hati tidak bisa lagi mengontrol sikab dan perbuatan kita.
Maka kenalilah hatimu…???

Jangan sampai hatimu  menjadi keras lalu menjadi mati,
 
Hati Kalian bisa Mati Karena Sepuluh Perkara

Suatu ketika, Ibrahim bin Adham melewati sebuah pasar di kota Basrah, lalu orang-orang mengerumuninya dan bertanya, Wahai Abu Ishaq, Allah Subhanahu wata’ala berfirman di dalam kitab suci-Nya,

“Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan doamu”.
(Q.S. Ghaafir: 10)

Sementara kami selalu berdoa semenjak lama, tetapi tidak kunjung dikabulkan.

Lalu, Ibrahim berkata,


Wahai warga Basrah, hati kalian sudah mati oleh sepuluh perkara, :
  1. Kalian mengenal Allah Subhanahu wata’ala, tetapi tidak mau menunaikan hak-Nya.
  2. Kalian membaca kitabullah, tetapi tidak mau mengamalkannya
  3. Kalian mengaku cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi kalian meninggalkan sunnahnya.
  4. Kalian mengaku bermusuhan dengan setan, tetapi kalian akur dengannya. Kalian mengakui setan adalah musuh yang nyata bagimu, namun kalian bersekutu dengannya dan bersahabat dengannya.
  5. Kalian mengatakan cinta kepada surga, tetapi tidak mau beramal menuju ke sana.
  6. Kalian mengatakan takut kepada neraka, tetapi kalian malah menggadaikan diri kalian kepadanya.
  7. Kalian mengatakan bahwa kematian itu benar adanya, tetapi kalian tidak mau mempersiapkan diri untuk menghadapinya.
  8. Kalian sibuk mencari aib saudara kalian, tetapi mengabaikan aib kalian sendiri.
  9. Kalian memakan karunia Rabb kalian, tetapi kalian tidak mensyukurinya.
  10. Kalian sering mengubur orang mati, tetapi tidak mau mengambil pelajaran darinya.

Maka 10 perkara ini menyebabkan hati kalian mati dan bagaimana mungkin doa kalian bisa terkabul jika kalian tidak memperbaiki diri..??

Semoga bermanfaat,

Allahu A’lam

__________________________________________________
Hilyatul Auliya` wa Thabaqatul Asyfiya`. Abu Nua’aim Ahmad bin Abdillah Al-Asfahani. Beirut: Darul Kitab Al-Arabiy (cetakan IV, tahun 1405 H). Juz 8, halaman 15 via software Makatabah Syamilah ]


sumber : http://diaryislam.wordpress.com/

Kamis, 13 Maret 2014

Kisah Teladan Pernikahan Julaibib

0 komentar

Kisah Julaibib dan Pengantin Perempuan


Wanita shalihah adalah seorang wanita yang tahan memegang bara …

Jika datang perintah dari syariat kepada salah seorang mereka, dia taat, terima, dan tunduk. Dia tidak menyanggah, tidak membangkang, ataupun mencari alasan untuk tidak menerimanya.

Perhatikanlah cerita gadis suci nan mulia ini! Cerita tentang seorang pengantin wanita…
Adalah seorang laki-laki dari sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bernama Julaibib. Wajahnya tidak begitu menarik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menawarinya menikah. Dia berkata (tidak percaya), “Kalau begitu, Anda menganggapku tidak laku?”

Beliau bersabda, “Tetapi kamu di sisi Allah bukan tidak laku.”

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa terus mencari kesempatan untuk menikahkan Julaibib…

Hingga suatu hari, seorang laki-laki dari Anshar datang menawarkan putrinya yang janda kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam agar beliau menikahinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya, “Ya. Wahai fulan! Nikahkan aku dengan putrimu.”
“Ya, dan sungguh itu suatu kenikmatan, wahai Rasulullah,” katanya riang.

Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya, “Sesungguhnya aku tidak menginginkannya untuk diriku…”

“Lalu, untuk siapa?” tanyanya.

Beliau menjawab, “Untuk Julaibib…”

Ia terperanjat, “Julaibib, wahai Rasulullah?!! Biarkan aku meminta pendapat ibunya….”

Laki-laki itu pun pulang kepada istrinya seraya berkata, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melamar putrimu.”

Dia menjawab, “Ya, dan itu suatu kenikmatan…”

“Menjadi istri Rasulullah!” tambahnya girang.

Dia berkata lagi, “Sesungguhnya beliau tidak menginginkannya untuk diri beliau.”

“Lalu, untuk siapa?” tanyanya.

“Beliau menginginkannya untuk Julaibib,” jawabnya.

Dia berkata, “Aku siap memberikan leherku untuk Julaibib… !
Tidak. Demi Allah! Aku tidak akan menikahkan putriku dengan Julaibib. Padahal, kita telah menolak lamaran si fulan dan si fulan…” katanya lagi.
Sang bapak pun sedih karena hal itu, dan ketika hendak beranjak menuju Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba wanita itu berteriak memanggil ayahnya dari kamarnya, “Siapa yang melamarku kepada kalian?”
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,” jawab keduanya.
Dia berkata, “Apakah kalian akan menolak perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?”
“Bawa aku menuju Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sungguh, beliau tidak akan menyia-nyiakanku,” lanjutnya.
Sang bapak pun pergi menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, seraya berkata, “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, terserah Anda.
Nikahkanlah dia dengan Julaibib.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun menikahkannya dengan Julaibib, serta mendoakannya,

اَللّهُمَّ صُبَّ عَلَيْهِمَا الْخَيْرَ صَبًّا  وَلَا تَجْعَلْ عَيْشَهُمَا كَدًّا كَدًّا

“Ya Allah! Limpahkan kepada keduanya kebaikan, dan jangan jadikan kehidupan mereka susah.”
Tidak selang beberapa hari pernikahannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dalam peperangan, dan Julaibib ikut serta bersama beliau. Setelah peperangan usai, dan manusia mulai saling mencari satu sama lain. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada mereka, “Apakah kalian kehilangan seseorang?” Mereka menjawab, “Kami kehilangan fulan dan fulan…”
 
Kemudian beliau bertanya lagi, “Apakah kalian kehilangan seseorang?” Mereka menjawab, “Kami kehilangan si fulan dan si fulan…”

Kemudian beliau bertanya lagi, “Apakah kalian kehilangan seseorang?” Mereka menjawab, “Kami kehilangan fulan dan fulan…”

Beliau bersabda, “Akan tetapi aku kehilangan Julaibib.”

Mereka pun mencari dan memeriksanya di antara orang-orang yang terbunuh. Tetapi mereka tidak menemukannya di arena pertempuran.

Terakhir, mereka menemukannya di sebuah tempat yang tidak jauh, di sisi tujuh orang dari orang-orang musyrik. Dia telah membunuh mereka, kemudian mereka membunuhnya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri memandangi mayatnya, lalu berkata,”Dia membunuh tujuh orang lalu mereka membunuhnya. Dia membunuh tujuh orang lalu mereka membunuhnya. Dia dari golonganku dan aku dari golongannya.”

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membopongnya di atas kedua lengannya dan memerintahkan mereka agar menggali tanah untuk menguburnya.

Anas bertutur, “Kami pun menggali kubur, sementara Julaibib radhiallahu ‘anhu tidak memiliki alas kecuali kedua lengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, hingga ia digalikan dan diletakkan di liang lahatnya.”

Anas radhiallahu ‘anhu berkata, “Demi Allah! Tidak ada di tengah-tengah orang Anshar yang lebih banyak berinfak dari pada istrinya. Kemudian, para tokoh pun berlomba melamarnya setelah Julaibib…”

Benarlah, “Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, mereka itu adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (An-Nur: 52).

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga telah bersabda, sebagaimana dalam ash-Shahih, “Setiap umatku akan masuk surga kecuali yang enggan.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah yang enggan itu?” Beliau bersabda, “Barangsiapa taat kepadaku, maka ia masuk surga, dan barangsiapa mendurhakaiku berarti ia telah enggan.”

Wallohu Ta’ala A’lam

 '
 sumber : http://diaryislam.wordpress.com/2012/06/01/kisah-teladan-pernikahan-julaibib/

Selasa, 04 Maret 2014

Penghalang Terkabulnya Doa

1 komentar
Apabila Kita sering berdoa. Tapi, kita merasakan bahwa doa kita jarang terkabul. Mungkin doa kita terhalang.

Lalu Apakah yang menyebabkan doa kita terhalang..??



 ______________________________________________________
MENGENAL BEBERAPA PENGHALANG DOA SEHINGGA DOA  TIDAK DIKABULKAN ALLAH TA’ALA
_______________________________________________________

Adalah sangat baik jika kita memperbanyak doa, sebab memperbanyak doa adalah merupakan salah satu perintah Allah sebagaimana firman-Nya :

Dan Tuhanmu berfirman : “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” [QS. Al-Mukmin : 60].

Namun jika kita merasa bahwa doa kita belum terkabulkan, maka kita tidak boleh putus asa. Kita harus ber-husnudhan pada Allah ta’ala dengan terus introspeksi terhadap diri kita sendiri. Ketika berdoa, kita harus memperhatikan adab-adab berdoa, diantaranya : ikhlash, sungguh-sungguh, khusyuk, penuh kerendahan, dan yakin bahwa doa kita pasti akan dikabulkan (sebagaimana firman Allah di atas). Awalilah doa kita dengan sanjungan kepada Allah ta’ala dan shalawat kepada Nabi-Nya shallallaahu ’alaihi wasallam. Bisa jadi doa kita terhalang karena beberapa faktor, diantaranya :

1. Makan dan minum dari yang haram, mengkonsumsi barang haram berupa makanan, minuman, pakaian, dan hasil usaha yang haram.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Wahai manusia, sesungguhnya Allah ta’ala adalah Maha Baik, tidak menerima kecuali yang baik, dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada para Rasul. Allah ta’ala berfirman : “Hai Rasul-Rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shalih” (QS. Al-Mu’minuun : 51). 

Dan Allah berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, makanlah dari rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu” (QS. Al-Baqarah : 172).  

Kemudian Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menceritakan seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut dan berdebu lalu menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berkata,”Ya Rabb..ya Rabb…”, sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya dari yang haram, dicukupi dari yang haram, maka bagaimana mungkin dikabulkan doanya?” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 1015].

2. Minta cepat terkabul doa yang akhirnya meninggalkan doa. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Dikabulkan doa seseorang dari kalian selama ia tidak buru-buru,(dimana) ia berkata : ”Aku sudah berdoa namun belum dikabulkan doaku” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 5981 dan Muslim no. 2735].

“Senantiasa doa seorang hamba akan dikabulkan selama ia tidak berdoa untuk berbuat dosa atau memutuskan silaturahim, dan selama ia tidak meminta dengan tergesa-gesa (isti’jal)”. Ada yang bertanya : “Ya Rasulullah, apa itu isti’jal ?”. Jawab beliau : “Jika seseorang berkata : ‘Aku sudah berdoa, memohon kepada Allah, tetapi Dia belum mengabulkan doaku’. Lalu ia merasa putus asa dan akhirnya meninggalkan doanya tersebut” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2735].

3. Melakukan maksiat dan apa yang diharamkan Allah. Seorang penyair berkata : “Bagaimana mungkin kita mengharap terkabulnya doa, sedangkan kita sudah menutup jalannya dengan dosa dan maksiat”.

4. Meninggalkan kewajiban yang diwajibkan oleh Allah. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, hendaklah kalian menyuruh yang ma’ruf dan mencegah kemungkaran atau (kalau tidak kalian lakukan) maka pasti Allah akan menurunkan siksa kepada kalian, hingga kalian berdoa kepada-Nya, tetapi tidak dikabulkan” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi no. 2169, Al-Baghawi dalam Syarhus-Sunnah 14/3453, dan Ahmad no. 23360. At-Tirmidzi berkata : “Hadits ini hasan”].

5. Berdoa yang isinya mengandung perbuatan dosa atau memutuskan silaturahim.

6. Tidak bersungguh-sungguh dalam berdoa. 

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Apabila seseorang dari kamu berdoa dan memohon kepada Allah, janganlah ia mengucapkan : ‘Ya Allah, ampunilah dosaku jika Engkau kehendaki, sayangilah aku jika Engkau kehendaki, dan berilah rizki jika engkau kehendaki ‘. Akan tetapi, ia harus bersungguh-sungguh dalam berdoa. Sesungguhnya Allah berbuat menurut apa yang Ia kehendaki dan tidak ada yang memaksa-Nya” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 7026].

7. Tidak khusyu’, lalai, dan terkuasai hawa nafsu. 

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
“Berdoalah kepada Allah dan kamu yakin akan dikabulkan. Ketahuilah bahwa Allah tidak akan mengabulkan doa orang yang hatinya lalai dan tidak khusyu’ “ [Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi no. 3479 dan Al-Hakim no. 1817; hasan lighairihi].

Kalaupun misalnya Allah ta’ala belum mentaqdirkan doa kita terwujud, kita harus sabar dan ridla bahwasannya Allah ta’ala mempunyai hikmah yang sangat besar. Allah ta’ala sangat sayang terhadap hamba-Nya dan seorang hamba tidak tahu tentang akibat urusannya. Terkadang seseorang mengharapkan sesuatu, padahal itu jelek buat dia. Sebaliknya, seseorang membenci sesuatu, padahal itu baik buat dia.
Semoga Bermanfaat


Wallaahu a’lam.


sumber : http://diaryislam.wordpress.com/2013/01/31/penghalang-terkabulnya-doa/

Selasa, 25 Februari 2014

Larangan Memutuskan Hubungan Silaturahmi

0 komentar


Firman Allah SWT, "Maka apabila kiranya kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan. Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan dituikannya telinga mereka dan dibutakannya penglihatan mereka,"(Muhammad: 22-23).

Diriwayatkan dari Jubair bin Muth'in R.A, bahwasanya ia pernah mendengar Rasulullah SAW. bersabda, "Tidak akan masuk surga seorang pemutus silaturrahim," (HR Bukhari [5984] dan Muslim [2556]).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah R.A, dari Nabi SAW. beliau bersabda, "Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk. Setelah Ia selesai menciptakan makhluk, silaturahim berkata, 'Ini adalah tempat seseorang meminta perlindungan dari-Mu dari perubatan memutus silaturahim (kekeluargaan).' Allah berfirman, 'Benar! Apakah kamu ridha Aku menyambung untuk orang yang menyambungmu dan aku memutuskan untuk orang yang memutuskanmu.' Silaturahim menjawab, 'Tentu ya Rabb.' Allah berfirman, 'Itu untukmu.'Rasulullah SAW. bersabda, 'Jika kalian mau maka bacalah firman Allah, 'Maka apabila kiranya kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan'," (HR Bukhari [5987] dan Muslim [2554]).

Diriwayatkan dari Aisyah R.A, dari Nabi SAW. beliau bersabda, "Tali silaturahim merupakan penghubung-Ku, siapa yang menyambungnya maka Aku akan menyambungnya dan siapa yang memutusnya maka Aku akan memutusnya," (HR Bukhari [5989] dan Muslim [2555]).

Diriwayatkan dari Nabi
SAW, "Barangsiapa memutus tali kekeluargaan atau bersumpah palsu maka ia akan melihat akibat buruknya sebelum ia meninggal," (Shahih, Silsilah Ahaadits ash-Shahiihah [1121]).
Diriwayatkan dari Abu Bakrah R.A, dari Nabi SAW, "Tidak ada satu dosapun yang lebih Allah cepatkan hukumannya di dunia bagi si pelaku di samping siksaan yang menunggunya di akhirat nanti selain dosa berbuat aniaya dan memutuskan tali kekeluargaan," (Shahih, HR Bukhari dalam Adabul Mufrad [67]).

Kandungan Bab:
  1. Sangat haram memutus tali persaudaraan.
  2. Memutus tali persaudaraan adalah penyebab berpalingnya seseorang dari berdzikir dan penyebab berbagai macam kerusakan.
  3. Memutuskan tali kekeluargaan merupakan penderitaan dan siksaan semasa di dunia serta dosa, kesulitan, penderitaan dan penderitaan di akhirat nanti.
  4. Terkadang hukuman suatu dosa itu dilambatkan kecuali dosa memutus tali kekeluargaan dan berbuat aniaya. Sebab hukuman kedua dosa itu dipercepat semasa di dunia sebelum ia disiksa di akhirat nanti.
  5. Berbuat aniaya itu membahayakan diri sendiri. Berdasarkan firman Allah,"Sesungguhnya bencana kezhaliman akan menimpa dirimu sendiri," (Yunus: 23). Dan diantara perkataan seorang penyair, "Tidaklah kamu perhatikan bahwa perbuatan aniaya akan menimpa pelakunya sendiri, dan pelakunya akan ditimpa siksaan."

Sumber: Diadaptasi dari Syaikh Salim bin 'Ied al-Hilali, Al-Manaahisy Syar'iyyah fii Shahiihis Sunnah an-Nabawiyyah, atau Ensiklopedi Larangan menurut Al-Qur'an dan As-Sunnah, terjemahan Abu Ihsan al-Atsari (Pustaka Imam Syafi'i, 2006), hlm. 3/262-262.
'
Mudah-mudahan bermanfaat, dan bisa kita amalkan serta kita sampaikan kepada orang lain.. Aamiin :)
'
sumber:http://alhikmah90.blogspot.com/2013/08/larangan-memutuskan-silaturahmi.html

Kamis, 20 Februari 2014

SAY NO TO VALENTINE DAY

1 komentar



Tanggal 14 Februari sudah terlewati, bagi sebagian orang menganggap hari tersebut merupakan hari yang penuh makna. Di hari itu banyak sekali orang yang mencoba menunjukkan cintanya kepada orang yang dikasihi dengan segala macam cara. yang paling umum ucapan sayang ini ditujukan buat orang special yan entah dari mana awalnya sehingga ada kata “Pacar”. Demi menarik simpati sang pacar, seringkali ungkapan kasih sayangnya ini berlebihan, yang isinya rayuan gombal semata.
 
Silahkan ditunggu !!!. Beberapa saat lagi pasti akan banyak Broadcast BBM, status jejaring sosial, eksplorasi acara – acara di berbagai media, segala hal yang berhubungan dengan “Valentine”.
 
Hal yang sangat disayangkan adalah ketika generasi Muslim juga turut serta bahkan menjadi bagian sentral di dalam acara – acara yang bertemakan Valentine Day ini. 
 
Berikut Penulis mencoba mengulas sedikit tentang apadan bagaimana Valentine Day. Semoga menjadi bahan pemikiran bagi generasi muslim untuk lebih berhati – hati dalam menyikapi segala hal.

Definisi 

Berikut definisi Valentine diambil dari beberapa sumber :
o Encyclopedia Americana volume XIII, page 464,”The date of the modern celebration, February 14, is believe to derive the execution of a Christian martyr, Saint valentine, on February14, 270.( Tanggal 14 Februari itu adalah perayaan modern yang berasal dari hari dihukum matinya seorang martir atawa pahlawan Kristen, yaitu Santo Valentine pada tanggal 14 Februari 270 Masehi )
 
o Encyclopedia Americana Volume XXVII halaman 860,”A day on wich lovers traditionally exchange affectionate messages and gifts. It observed on February 14, the date on wich Saint Valentine was martyred.” ( Yaitu sebuah hari dimana orang yang sedang dilanda cinta secara tradisional saling mengirimkan pesan cinta dan hadiah-hadiah. Hari itu diperingati pada tanggal 14 Februari dimana santo Valentine meninggal dan dianggap sebagai pahlawan karena mempertahankan kepercayaan atawa keyakinan).
 
o Encyclopaedia Britannica Volume XIV hlaman 949. “The Saint Valentine who is spoken as the apposite Rhaetia and venerated in Passau as its first bishop….”. ( Santo Valentine yang disebutkan itu adalah seorang utusan dari Rhaetia dan dimuliakan di Passau sebagai uskup yang pertama )

Sejarah Valentine day

Valentine Day mulai ada sejak abad keempat Sebelum Masehi yang dirayakan kota Roma. Perayaan tersebut tidak disebut Valentine Day, karena perayaan hari kasih sayang itu sebenarnya buat mengjhormati dewa mereka (Lupercus).
 
Acaranya berbentuk upacara yang diselingi penarikan undian dalam rangka mencari pasangan. Dengan cara menarik gulungan kertas yang bertuliskan nama, para gadis mendapatkan pasangan lantas mereka menikah untuk jangka waktu setahun. Setelah mereka ditinggalkan begitu saja dan sudah sendiri lagi (tidak memiliki pasangan), mereka menuliskan namanya untuk dimasukkan kembali ke kotak undian pada upacara berikutnya. 
 
Upacara rutin ini sudah dilakukan kurang lebih 800 tahun lamanya. Dan ketika Katolik mulai berkembang, para pemimpin gereja ingin turut serta dalam perayaan tersebut. Mereka mencari seorang santo (Orang suci bagi Katolik), yang disiasati sebagai pengganti dewa kasih sayang (Lupercus). Pengganti Lupercus ini adalah Santo Valentine, seorang uskup yang tewas sebagai martir sekitar 200 tahun sebelum masa itu.
 
Salah satu alasan menjadikan Santo Valentine sebagai pengganti Lupercus pada hari kasih sayang, tidak terlepas dari riwayat Santo. Konon, ia dihukum mati Kaisar Claudius II karena melanggar aturan yang dibuat sang kaisar. PadaTahun 270, kekaisaran Roma membutuhkan sejumlah tentara. Sang Kaisar megeluarkan aturan yang melarang perkawinan. Agar para tentara bisa lebih fokus ke peperangan. Tapi uskup Valentine berusaha menolong pasangan yang sedang jatuh cinta dan ingin membentuk keluarga. Pasangan - pasangan yang menikah selanjutnya dia berkati di tempat yang tersembunyi. Hingga akhirnya hal tersebut diketahui kaisar, sehingga Santo Valentine pun dihukum pancung. 
 
Dengan alasan itulah Santo Valentine dipilih menggantikan dewa kasih sayangnya orang Roma (Lupercus). Karena menurut mereka, peranan Uskup Valentine kepada para pecinta sangat besar. Seiring perkembangan, siasat pemimpin gereja katolik itu nampaknya berhasil dengan sukses. Upacara kasih sayang tersebut sudah menjadi rutinitas ritual yang bagi mereka yang seolah wajib dirayakan. Mereka mengemas acara kasih sayang ini sangat rapi sehingga kesan formalnya bisa disamarkan. Dengan siasat tersebut, sangat banyak generasi muslim yang terjebak pada perayaan hari kasih sayang. Seperti melakukan hubungan seks sesuka hatinya. Gonta-ganti pasangan semaunya. Semua yang mereka lakukan itu sebenarnya bukan lagi didasari oleh kasih sayang, akan tetapi hawa nafsu belaka.

Valentine dalam presepsi Islam

Sebagai generasi muslim kita harus kritis dalam melihat persoalan, jangan hanya karena trend semata, akhirnya kita ikut - ikutan. Fahami dulu dasar hukum syar’i apa yang akan kita laksanakan. Cinta merupakan fitrah dan anugerah dari Allah untuk seluruh manusia. Rasulullah sangat menganjurkan kita untuk memberikan cinta dan kasih sayangnya kepada sesama manusia. Akan tetapi, pengertian cinta dan kasih sayang yang dianjurkan Rasulullah tidaklah seperti pada perayaan Valentin Day yang lebih mengarah kepada cinta pada lawan jenis bahkan cenderung mengumbar hawa nafsu. Akan tetapi kasih sayang yang yang dianjurkan Rasulullah adalah lebih hakiki. Kasih sayang ayng dianjurkan Rasulullaoh adalah kasih sayang kepada orang tua, adik, kakak, isteri atau suami, saudara sesama muslim. Bahkan lebih jauh Rasulullah menganjurkan kita untuk menyayangi hewan, tumbuh-tumbuhan dan lingkungan.
 
Dari sejarah Valentine yang sudah diuraikan, sebenarnya valentine day itu merupakan bagian dari acara keagamaan umat nasrani. Dan bagi kita umat Islam, turut merayakan, apalagi berpartisifasi aktif dalam kegiatan dan perayaan agama lain sangat dibatasi Al Qur’an yang harus menjadi pedoman hidup bagi kita. Bagimu agamamu, bagiku agamaku (Qur’an Surat Al-kafiruun di Al-Qur’an). 
 
Sabda Rasulullah SAW :
“Barang siapa meniru suatu kaum , maka ia termasuk kaum itu.” (HR. Abu Daud, dan sanadnya diperkuat oleh Ibnu Taimiyah). 
 
Melihat kajian ini, sepatutnya Generasi Muslim menolak Valentine Days. Toleransi beragama jangan sekali – kali dijadikan alasan kita untuk ikut merayakan kepercayan agama lain. Jauh sebelum sang pastur Valentine dipenggal lehernya oleh kaisar, ajaran Allah SWT. sudah mengutamakan konsep kasih sayang dalam syi’arnya. Kasih sayang yang ikhlas harus tetap terpancar dari jiwa – jiwa muslimin dan terpelihara selamanya. Bukan hanya untuk satu hari saja.
 
Masalah cinta tidak akan ada yang bisa menandingi Rasulullah SAW. Beliau rela berkorban apa saja untuk berdakwah menyelamatkam kita sebagai umatnya. Tulusnya kasih sayang Rasulullah terhadap kita bisa kita baca dalam Al-Qur’an Surat At - Taubah ayat 128 : 
 
“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.”
 
Hai kawan, apakah kita sebagai umat islam perlu menunjukan kasih sayang hanya setiap tanggal tersebut ? Dan kasih sayang seperti apakah yang kita tunjukan itu ? sungguh hanya murka allah lah yang akan kita dapat apabila kita mengikuti hari VALENTINE, karena sebagian besar hanya maksiatlah yang diperbuat dihari itu. Sesungguhnya setiap saat pun kita bisa menunjukan kasih sayang tersebut bukan hanya hari tertentu. Dan kasih sayang kita sebagai umat islam itu ada batasnya ada aturannya. Sesungguhnya kasih sayang allah itu jauh lebih penting daripada kasih sayang yang lainnya. Oleh karena itu, sadarlah kalian semua dan jauhi yang namanya valentine day, INGAT itu merupakan program YAHUDI. Kita sebagai umat islam punya pedoman atau keyakinan yang kuat, jangan sampai kita ikut-ikutan hanya karena diajak atau malu sama teman, saudara, pacar, dan lain sebagainya. TAPI SAY NO TO VALENTINE DAY.
 
Mudah-mudahan bermanfaat, dan bisa menjadi bahan pemikiran bagi ikhwan sekalian salam :)

sumber : http://alhikmah90.blogspot.com/2014/01/say-no-to-valentine-day.html