• Diriwayatkan dari Jubair bin Muth'in R.A, bahwasanya ia pernah mendengar Rasulullah SAW. bersabda,
  • Sabda Rasulullah SAW : “Barang siapa meniru suatu kaum , maka ia termasuk kaum itu.” (HR. Abu Daud, dan sanadnya diperkuat oleh Ibnu Taimiyah)
  • Doa merupakan salah  satu bentuk ibadah, sesuai dengan sabda Rasulullah saw., ”Doa itu adalah ibadah” (H.R. Tirmidzi). Sebagai suatu ibadah, berdoa hendaknya dilakukan dengan cara yang baik dan benar sebagai berikut.
  • Hanya tinggal menghitung minggu, Ramadhan insya Allah datang menghampiri kita. Adalah Ramadhan, Ia bertelaga bening Airnya mutiara maghfiroh, Gericiknya dzikir & tadarrus/
  • Bulan Suci umat Islam kini telah tiba, tepat dihari pertama kita menjalankan ibadah puasa ini mudah-mudahan kita selalu diberikan kesehatan lahir serta batin Oleh Alloh SWT Aamiin..
  • Bulan ramadhan merupakan bulan yang sangat dimukiakan oleh Allah SWT, dengan berbagai macam keistimewahan..
  • “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan dengan keimanan dan pengharapan akan ridha Allah, akan diampuni dosa-dosanya yang terdahulu.”
  • “
Download Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1433 H untuk kota Bandung, Jakarta, Medan, Surabaya, Makassar, Yogyakarta”
  • Diriwayatkan dari Ali Bin Abi Thalib ra bahwasanya berkata ia : Nabi Muhammad SAW pernah ditanya tentang kelebihan Shalat Tarawih di Bulan Ramadhan, maka beliaw bersabda :
  • Berikut Merupakan Keutamaan Sholat Tarawih di Malam yang ke 8. Mudah - mudah saja di malam kedelapan ini kita bisa mendapatkan keutamaan tersebut Aamiin ya Rabbal Aalamiin..
  • Pada postingan di hari sebelumnya saya belum posting keutamaan shalat tarawih di malam yang ke sembilan dan sekarang udah masuk lagi di malam yang ke sepuluh,, Subhanalloh luar biasa Allohu akbar..
  • Alhamdulillah kita sampai di malam yang ke 11, mudah-mudahan di malam yang ke sebelas ini kita bisa mendapatkan keutamaan Sholat tarawih sesuai dengan yang Diriwayatkan dari Ali Bin Abi Thalib ra bahwasanya
  • Berikut Merupakan keutamaan Sholat Tarawih di Malam Ke-12 sampai 13
  • Berikut Merupakan keutamaan Sholat Tarawih di Malam Ke-14 sampai 15
  • Berikut Merupakan keutamaan Sholat Tarawih di Malam Ke-16 sampai 21
  • Berikut Merupakan keutamaan Sholat Tarawih di Malam Ke-22 sampai 24
  • Berikut Merupakan keutamaan Sholat Tarawih di Malam Ke-25 sampai 27
  • Berikut Merupakan keutamaan Sholat Tarawih di Malam Ke-28 sampai 30

Senin, 10 September 2012

Zikrul Maut dan Reorientasi Tujuan Hidup

2 komentar





Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa barang siapa yang ketika sakaratul mautnya mengucapkan kalimat thayyibah, lâ ilâha illalâhu, niscaya dia akan masuk surga. Semudah itukah?

Suatu hari, salah seorang tetangga saya sakit keras. Ketika saya menjenguk ke sana, kondisinya semakin memburuk. Dia memasuki kondisi kritis. Anak, istri, cucu, dan semua saudaranya sudah berkumpul. Sebagian ada yang menangis karena sadar bahwa tidak lama lagi orang tua mereka akan meninggalkan dunia untuk selamanya. Seorang ustaz segera memimpin orang-orang untuk membacakan ayat-ayat suci Al Qur’an. Dia sendiri membacakan doa-doa talkin dan membimbing si sakit untuk mengucapkan kata-kata tahlil. Anehnya, walaupun dibacakan kalimat thayyibah berkali-kali, si sakit tetap saja sulit mengulang kata-kata yang sebenarnya sangat mudah untuk diucapkan. Sampai akhirnya maut menjelang, dia tidak juga kunjung mengucapkan kata-kata “pembuka pintu surga” tersebut.

Ada kisah lain, saya mendengarnya dari seorang ustaz, bahwa ada seorang pria kaya yang tengah sakit keras. Detik-detik menuju pintu kematiannya pun seakan semakin dekat, istri, anak, cucu, dan keluarganya sudah berkumpul di dekatnya. Dia pun dibimbing untuk mengucapkan kalimat lâ ilâha illalâhu. Namun aneh, menjelang kematiannya, yang dia ucapkan malah nama beberapa orang wanita yang tidak dikenal oleh keluarga itu. Bapak itu pun meninggal tanpa sempat mengulang kata-kata tahlil yang dibacakan di telinganya. Usut punya usut, ternyata nama-nama yang disebutkan dalam proses sakaratul mautnya itu adalah nama-nama wanita simpanannya. Na’ûzubillâhi min dzâlik. Saat kematian menjadi saat terbukanya perselingkuhannya dengan beberapa wanita muda.

Berdasarkan dua kisah ini, tampak bahwa mengucapkan kalimat thayyibah pada akhir kehidupan bukanlah hal yang mudah dilakukan. Kalimat tersebut akan menjadi mudah diucapkan apabila kalimat tersebut telah menjadi sumber energi dan orientasi dalam hidupnya. Sejatinya, kata-kata pada akhir kematian adalah cerminan dari orientasi hidupnya selama di dunia. Dengan demikian, proses panjang yang bisa menjadi penyebab akhir kematian seseorang adalah zikir. Kecil kemungkinan bagi seorang yang sehari-harinya bergumul dengan kemaksiatan akan menutup hidupnya dengan zikir. Kalau orientasi hidupnya adalah harta, pangkat, jabatan, kenikmatan seks, dan dia belum sempat berpaling kepada Allah Swt., itulah yang akan dia ucapkan saat kematiannya. Bahkan, boleh jadi dia akan mati ketika mengejar-ngejar kenikmatan duniawi itu.

Lain halnya dengan manusia yang orientasi hidupnya lâ ilâha illalâhu, menjadikan semua perbuatannya berorientasi kepada kalimat mulia tersebut. Jangan heran apabila kata-kata pada akhir kehidupan manusia seperti itu adalah lâ ilâha illalâhu. Allah Swt. pun berkenan memasukkannya ke dalam surga sebagaimana dijanjikan Rasulullah saw. dalam haditsnya.
Menjenguk orang sakit, terlebih orang yang sakitnya sudah dalam tahap kritis, akan mampu menyadarkan kita akan orientasi kehidupan kita selama ini. Apakah kita telah  benar-benar meniti jalan Allah sebagai orientasi hidup kita ataukah kemewahan duniawi yang lebih kita pentingkan? Hal ini sangat penting kita renungkan sebab apa pun yang kita miliki di dunia ini menjadi tidak berharga apabila akhir kematian kita adalah su’ul khatimah. Sebanyak apa pun perbendaharaan duniawi yang kita kumpulkan tidak akan mampu menolong kita tatkala sakaratul maut datang. Selain itu, tidak selamanya manusia itu sehat, jaya, kaya, kuat, dan memiliki kekuasaan. Akan tiba suatu hari ketika kita tidak bisa apa-apa lagi, ketika kita terbujur menunggu ajal.

Dengan melayat orang sakit, sekali lagi, kita seakan diingatkan untuk memanfaatkan semua yang kita punya sebagai sarana ibadah kepada-Nya dan melakukan reorientasi kehidupan kita dari berorientasi pada kesenangan dunia menjadi berorientasi pada keridhaan Allah. Di sinilah urgensi hadits Rasulullah saw. bahwa orang yang paling cerdas adalah orang yang senantiasa mengingat mati dan dia mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menyongsong kematiannya itu.

“Ingatlah engkau akan perkara-perkara yang zahirnya adalah keutamaan dan batinnya adalah kewajiban: bergaul dengan orang saleh adalah keutamaan dan mengikuti jejak langkahnya adalah kewajiban. Membaca Al Qur’an adalah keutamaan dan mengamalkan isinya adalah kewajiban. Ziarah kubur adalah keutamaan dan menyiapkan bekal untuk kehidupan setelah mati adalah kewajiban. Menengok orang sakit adalah keutamaan dan berwasiat (pada akhir hayat) adalah suatu kewajiban.”
— Utsman bin Affan —

Sabtu, 08 September 2012

Wanita Sebagai Ratu Rumah Tangga

0 komentar

Wanita Sebagai Ratu Rumah Tangga dan Sekaligus Harapan Menjadi Bidadari di Surga


Rasulullah saw. bersabda,

وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا
“Dan seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya.” (HR Al Bukhari )

Penilaian Terhadap Hadits

Hadits shahih diriwayatkan Al Bukhari dalam baabul jum’ah fil qura wal mudun (853)

Kilas Penjelasan

Allah telah menetapkan manusia sebagai khalifah di muka bumi dan menganugerahkan kepadanya bakat dan potensi kepemimpinan untuk memudahkan tugas-tugas kekhilafahan yang diembankan kepadanya. Tugas kekhilafahan yang sangat berat ini tidak akan mampu dipikul oleh manusia tanpa kerja sama, koordinasi, dan distribusi kepemimpinan yang baik di antara mereka. Karenanya, dalam hadits ini Rasulullah saw. menandaskan bahwa wilayah kepemimpinan wanita adalah keluarga dan rumah tangga suaminya, sedang wilayah kepemimpinan laki-laki berada di luar rumah.

Nilai-Nilai Kewanitaan
  1. Potensi kepemimpinan pada diri wanita
“Dan seorang wanita adalah pemimpin”. Penggalan hadits ini menegaskan bahwa wanita berhak menjadi seorang pemimpin dan tidak harus selalu berada di belakang sebagai obyek kepemimpinan. Hal itu karena wanita juga memiliki potensi kepemimpinan sebagaimana yang dimiliki kaum lelaki meski dengan porsi yang berbeda. Rasulullah saw. bersabda,

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin bertanggung jawab atas kepemimpinannya.” (HR Al Bukhari dan Muslim)

  1. Wilayah kepemimpinan wanita
“Dan seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya”. Penggalan hadits ini menunjukkan bahwa wilayah kepemimpinan wanita adalah rumah tangga yang dibangun bersama suaminya. Hal ini tidak menafikan kepemimpinan seorang wanita di luar rumah selama ia memenuhi syarat-syaratnya. Imam Ibnu Hajar berkata, “Kepemimpinan wanita dibatasi dengan “rumah” karena pada umumnya wanita tidak dapat berkiprah di luar rumah kecuali dengan izin khusus.” (Fathul Bari/5/181). Di antara syarat-syarat itu adalah:
  1. Izin dari suaminya
Karena seorang wanita tidak boleh keluar rumah kecuali dengan izin dari suaminya. Rasulullah saw. bersabda,

مَا لامْرَأَةٍ أَنْ تَخْرُجَ مِنْ بَيْتِ زَوْجِهَا إِلاَّ بِإِذْنِ زَوْجِهَا (رواه الطبراني)
“Tidak boleh bagi seorang wanita keluar dari rumah suaminya kecuali dengan izin dari suaminya,” (HR Ath Thabrani)
  1. Tidak melalaikan tugas-tugas kepemimpinan dalam rumah
Karena tugas-tugas kepemimpinan di rumah hukumnya adalah wajib sedang kepemimpinan di luar rumah adalah ja’iz (boleh). Tentu saja sesuatu yang ja’iz tidak boleh mengalahkan yang wajib.
  1. Memiliki keahlian dan kelayakan untuk mengemban amanah kepemimpinan yang dibebankan kepadanya
Seorang wanita hendaknya memiliki kemampuan dan kelayakan untuk menjadi pemimpin sehingga dapat menunaikan amanah kepemimpinan dengan sebaik-baiknya. Karenanya, ketika Abu Dzar ra. meminta untuk diangkat sebagai pemimpin, Rasulullah saw. bersabda kepadanya,

يَا أَبَا ذَرٍّ إِنَّكَ ضَعِيفٌ وَإِنَّهَا أَمَانَةُ وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ إِلَّا مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ فِيهَا (رواه مسلم)
“Wahai Abu Dzar, sesungguhnya kamu adalah seorang yang lemah, sedang kepemimpinan adalah amanah, dan kepemimpinan ini akan menjadi kehinaan dan penyesalan pada hari Kiamat, kecuali bagi orang yang mengembannya dengan hak-haknya dan menunaikan kewajiban-kewajibannya.” (HR Muslim
  1. Tidak mengemban amanat kepemimpinan yang secara khusus menjadi hak kaum laki-laki
Terlepas dari khilaf yang ada, sepatutnya wanita tidak mengemban amanah kepemimpinan yang menurut mayoritas ulama menjadi hak kaum laki-laki. Di antaranya adalah kepala negara. Diriwayatkan bahwa ketika mendengar berita pengangkatan anak putri Kisra sebagai pemimpin negara Parsi sepeninggal ayahnya, Rasulullah saw. bersabda,

لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً (رواه البخاري)
“Tidak akan beruntung suatu kaum yang mengangkat wanita sebagai pemimpin mereka.” (HR Al Bukhari
  1. Obyek dan tanggung jawab kepemimpinan wanita
“Dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya“. Penggalan hadits ini menunjukkan bahwa seorang wanita akan dimintai tanggung jawab atas kepemimpinannya di rumah suaminya. Sedangkan obyek kepemimpinan yang menjadi tanggung jawab wanita meliputi dua aspek: semua anggota keluarga dan urusan internal rumah tangga.
  1. Mengelola semua anggota keluarga sebagai sebuah tim
Tanggung jawab ini didasarkan pada sabda Rasulullah saw.,

وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى أهل بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ
“Seorang wanita menjadi pemimpin (pengelola) semua anggota keluarga suaminya dan anak-anaknya serta bertanggung jawab atas mereka.” (HR Al Bukhari dan Muslim)
Oleh karena itu,-sebagai ratu rumah tangga-seorang wanita harus mampu  mengelola semua anggota keluarganya dengan baik sehingga tercipta pola hubungan yang harmonis, konstruktif, dan produktif. Sebagai buahnya mereka dengan penuh kesadaran dan keridhaan senantiasa mendukung semua kebijakan dan tindakan  positif  yang digulirkannya. Di antara bentuk dukungan itu adalah:
  • Memberikan izin dan restu ketika hendak melakukan sesuatu yang membutuhkan izin dari suami atau walinya.
Seorang wanita harus mampu mengondisikan semua anggota keluarga sehingga ia mendapatkan izin dari mereka untuk melaksanakan berbagai proyek kebaikan yang membutuhkan izin dari mereka, di antaranya adalah izin dari suami. Rasulullah saw. bersabda,

لاَ تَصُمْ الْمَرْأَةُ وَبَعْلُهَا شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ وَلاَ تَأْذَنْ فِي بَيْتِهِ وَهُوَ شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ وَمَا أَنْفَقَتْ مِنْ كَسْبِهِ مِنْ غَيْرِ أَمْرِهِ فَإِنَّ نِصْفَ أَجْرِهِ لَهُ
“Janganlah seorang wanita berpuasa sedang suaminya berada di rumah kecuali dengan izinnya. Janganlah dia menerima tamu lelaki di rumah suaminya sedang dia berada di rumah kecuali dengan izinnya. Harta apa pun yang disedekahkannya dari hasil kerja suaminya tanpa perintah dari suaminya, maka separuh pahala sedekah itu untuk suaminya.’” (HR Al Bukhari dan Muslim)
Izin dari wali atau muhrimnya. Rasulullah saw. bersabda,

أَيُّمَا امْرَأَةٍ نَكَحَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ وَلِيِّهَا فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ (رواه الترمذي وقَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ )
“Siapapun wanita yang menikah tanpa izin dari walinya, maka pernikahannya adalah batil, pernikahannya adalah batil.’” (HR At Tirmidzi
  • Membantu menuntaskan berbagai urusan keluarga.
Dia juga harus mampu mengondisikan mereka agar dengan suka cita melakukan beberapa pekerjaan rumah tangga yang kadang tidak mampu dilakukannya sendiri seperti mengurus anak, mencuci baju, membersihkan alat-alat dapur, dan melakukan pekerjaan rumah tangga lainnya, baik ketika diminta maupun tanpa diminta oleh istrinya. Aisyah ra. berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ فَإِذَا حَضَرَتْ الصَّلاَةُ خَرَجَ إِلَى الصَّلاَةِ
“Rasulullah saw. senantiasa melayani keluarganya, maka apabila datang waktu shalat, beliau keluar untuk melakukan shalat.” (HR Al Bukhari dan Ahmad)
  • Ikut berpartisipasi dalam proyek kebaikan yang digulirkannya.
Dia juga harus mampu mengondisikan mereka agar mau berpartisipasi dalam proyek kebaikan yang mengharuskan adanya partisipasi dari mereka. Seperti ketika seorang wanita dituntut untuk bepergian demi menyukseskan proyeknya. Rasulullah saw. bersabda,

لاَ يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ تُسَافِرَ سَفَرًا يَكُونُ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ فَصَاعِدًا إِلاَّ وَمَعَهَا أَبُوهَا أَوْ أَخُوهَا أَوْ زَوْجُهَا أَوْ ابْنُهَا أَوْ ذُو مَحْرَمٍ مِنْهَا
“Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir bepergian selama tiga hari atau lebih kecuali ditemani ayahnya, saudara lelakinya, suaminya, anak lelakinya, atau muhrimnya.” (HR At Tirmidzi)
Atau ketika harus menyambut tamu laki-laki yang bukan muhrimnya. Rasulullah saw. bersabda,

لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ وَمَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ (رواه مسلم)
“Janganlah seorang lelaki berdua-duaan dengan seorang wanita kecuali ditemani oleh muhrimnya.” (HR Muslim)
  1. Menata semua urusan internal rumah tangga
Di samping mengelola sumber daya manusia, seorang wanita bertanggung jawab untuk mengelola berbagai urusan internal rumah tangga. Rasulullah saw. bersabda,

وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ (رواه البخاري ومسلم)
“Seorang wanita menjadi pemimpin (pengelola semua urusan) rumah tangga suaminya dan anak-anaknya serta bertanggung jawab atas mereka.” (HR Al Bukhari dan Muslim)
Oleh karena itu, dia harus mampu mengelola semua urusan yang menjadi tanggung jawabnya sehingga menjadi wanita saleh yang disegani, dihormati, dan dicintai oleh seluruh anggota keluarganya. Rasulullah saw. bersabda,

أَلَا أُخْبِرُكَ بِخَيْرِ مَا يَكْنِزُ الْمَرْءُ الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهُ وَإِذَا أَمَرَهَا أَطَاعَتْهُ وَإِذَا غَابَ عَنْهَا حَفِظَتْهُ
“Maukah kamu aku beritahu tentang harta terbaik yang seharusnya disimpan oleh seorang hamba? Dialah wanita saleh, yang membahagiakan ketika dipandang, yang menaati ketika diperintah, dan menjaga hak-hak suaminya ketika ditinggalkan.” (HR Abu Dawud)

Jumat, 07 September 2012

Doa Kehidupan Sehari-hari

0 komentar

Doa Kehidupan Sehari-hari yang Bisa Anda Amalkan


a.     Doa Sebelum Tidur

بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ اَحْياَ وَبِسْمِكَ اَمُوْتُ
”Dengan nama-Mu, ya, Allah, aku hidup dan dengan nama-Mu aku mati” (H.R. Bukhari dan Muslim).

b.    Doa Bangun Tidur       
                                                 
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى اَحْياَناَ بَعْدَ مَا اَمَاتَناَ وَاِلَيْهِ النُّشُوْرِ
”Segala puji bagi Allah yang menghidupkan kami setelah mematikan kami; dan kami akan kembali kepada-Nya” (H.R. Bukhari).

c.      Doa Sebelum  Makan

اَللَّهُمَّ باَرِكْ لَناَ فِيْمَا رَزَقْتنَاَ وَقِناَ عَذَابَ النَّارِ
”Ya, Allah, berkahilah kami dalam rezeki yang telah Engkau limpahkan kepada kami, dan peliharalah kami dari siksa api neraka. Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (H.R. Ibnu as-Sani).

d.    Doa Sesudah Makan

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى اَطْعَمَناَ وَسَقاَناَ وَجَعَلَناَ مُسْلِمِيْنَ
”Segala puji bagi Allah yang telah memberi makanan dan minuman kepada kami serta menjadikan kami Muslim” (H.R. Abu Dawud).

e.      Doa ketika Hendak Bersetubuh

بِسْمِ اللهِ اَللَّهُمَّ جَنِّبْناَ الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَارَزَقْتَناَ
”Dengan nama Allah Swt., Ya Allah Swt. jauhkanlah kami dari gangguan setan dan jauhkanlah setan itu dari bayi yang akan Engkau anugerahkan kepada kami” (H.R. Bukhari dan Muslim).

f.      Doa Masuk ke Kamar Mandi

بِسْمِ اللهِ اللَّهُمَّ اِنِّى اَعُوْذُبِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَباَئِثِ
”Dengan nama Allah. Ya, Allah, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari godaan setan laki-laki dan setan perempuan” (H.R. Bukhari dan Muslim)

g.     Doa Keluar dari Kamar Mandi

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى اَذْهَبَ عَنِّى اْلاَذَى وَعَافاَنِى
 ”Segala puji bagi Allah, Zat yang telah menghilangkan kotoran dariku dan menyelamatkan aku ” (H.R. Ibnu Sunni dan Thabrani)

h.    Doa ketika Bercermin

اَللَّهُمَّ اَنْتَ حَسَّنْتَ خَلْقِى فَحَسِّنْ خُلُقِى فَحَرِّمْ وَجْهِى عَلَى النَّارِ اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى سَوَّى خَلْقِى فَعَدَ لَهُ وَكَرَّمَ صُوْرَةَ وَجْهِى فَاَحْسَنَهَا وَجَعَلَنِى مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ
”Ya, Allah, Engkau telah membaguskan penciptaanku maka baguskanlah budi pekertiku dan jauhkanlah wajahku dari siksa neraka. Segala puji bagi Allah yang telah menyempurnakan kejadianku dan memuliakan wajahku, kemudian membaguskannya dan menjadikan diriku termasuk golongan orang-orang muslim” (H.R. Ibnu Hibban dan Thabrani).

i.       Doa  Memakai Pakaian

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى كَسَانِى هٰذَا الثَّوْبَ وَرَزَقَنِيْهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّى وَلاَ قُوَّةٍ
”Segala puji bagi Allah, Zat yang telah memberi pakaian ini kepadaku, dan menganugerahkannya kepadaku tanpa daya dan kekuatan dariku” (H.R. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah). 


j.       Doa akan Keluar dari Rumah

بِسْمِ اللهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ لاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَ اِلاَ بِاللهِ
”Dengan nama Allah, aku berserah diri kepada Allah. Tidak ada daya dan tidak ada kekuatan kecuali dari Allah” (H.R. Abu Dawud dan Tirmidzi).

k.    Doa Masuk  ke Rumah

بِسْمِ اللهِ وَلَجْناَ وَبِسْمِ اللهِ خَرَجْناَ وَعَلَى رَبِّناَ تَوَكَّلْناَ
”Dengan nama Allah aku masuk ke rumah dan dengan nama Allah aku keluar rumah. Kepada Allah Swt. aku berserah diri” (H.R. Abu Dawud).

Kamis, 06 September 2012

Adab dalam Berdoa

0 komentar

Adab dalam Berdoa Kepada Allah SWT


Doa merupakan salah  satu bentuk ibadah, sesuai dengan sabda Rasulullah saw., ”Doa itu adalah ibadah” (H.R. Tirmidzi). Sebagai suatu ibadah, berdoa hendaknya dilakukan dengan cara yang baik dan benar sebagai berikut.

1)      Berdoa hanyalah ditujukan kepada Allah Swt. semata-mata, tidak boleh kepada benda-benda lain dan tidak boleh melalui perantaraan orang-orang yang sudah meninggal. Berdoa harus langsung ditujukan kepada Allah Swt. Rasulullah saw. telah memberi nasihat kepada Abdullah bin Abbas dengan sabdanya, ”Hai anak muda, aku akan mengajarimu beberapa kalimat yaitu ”Peliharalah ketetapan Allah niscaya Dia akan memeliharamu. Apabila engkau memohon, memohonlah kepada Allah. Apabila engkau meminta bantuan, mintalah bantuan kepada Allah. Ketahuilah bahwa sesungguhnya, seandainya umat berhimpun untuk memberi sesuatu manfaat kepadamu, mereka tidak mampu memberimu kecuali sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah untukmu. Seandainya pun mereka berhimpun untuk menjatuhkan mudarat kepadamu, mereka tidak mampu menjatuhkannya kepadamu kecuali sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah Swt. untukmu. Pena-pena telah diangkat dan lembaran telah ditutup” (H.R. Tirmidzi).

2)     Merendahkan suaranya sekadar dapat didengar sendiri atau orang yang ada di sisinya. Allah Swt. memuji Nabi Zakaria a.s. ketika beliau berdoa kepada Allah Swt., ”Inilah peringatan rahmat Tuhanmu kepada hamba-Nya, Zakaria. Seketika dia menyeru Tuhannya dengan seruan yang lemah lembut” (Q.S. Maryam: 2-3).

3)      Berdoa harus disertai dengan usaha. Ali bin Abu Thalib r.a. berkata, ”Orang yang berdoa tanpa berusaha seperti pemanah tanpa busur.”

4)      Merendahkan diri dan menundukkan hati. Allah Swt. berfirman, ”Berdoalah kepada Tuhanmu dengan merendahkan diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah Swt. tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas” (Q.S. Al A’raf: 55).

5)      Hendaknya meminta yang pantas dan bermanfaat bagi dirinya. Seperti halnya doa Nabi Ibrahim a.s. yang meminta agar diberi anak yang saleh dan doa Nabi Muhamad saw. yang meminta agar diberi kemenangan pada Perang Badar.

6)      Sebelum berdoa, hendaknya memuji Allah Swt. dan membaca selawat untuk Rasulullah saw. Beliau bersabda, ”Apabila salah seorang di antara kamu berdoa, hendaklah dia memulai dengan memuji Tuhannya yang Mahasuci lalu berselawat untuk Nabi Muhammad saw. Kemudian, berdoalah sesuai dengan yang diinginkan.” (H.R. Abu Daud dan Tirmidzi).

7)      Memakai bahasa yang sederhana yang menunjukkan kerendahan hati. Lebih baik doa itu singkat dan padat. Tidak perlu dipanjang-panjangkan seperti orang berpidato atau membaca puisi. Lebih utama doa yang terdapat dalam Al Qur’an atau As Sunnah. Aisyah berkata, ”Rasulullah saw. menyenangi doa yang padat dan singkat dan meninggalkan doa yang tidak demikian” (H.R. Abu Daud).
Aisyah juga berkata, ”Jauhilah sajak dalam berdoa, karena Rasulullah saw. dan para sahabat tidak melakukan hal tersebut” (H.R. Ahmad).

8)      Melaksanakan adab batin dalam berdoa yaitu menghadapkan diri sepenuhnya kepada-Nya dan berdoa kepada Allah Swt. dengan ikhlas. Allah Swt. berfirman, ”Maka sembahlah Allah Swt. dengan ikhlas kepadanya” (Q.S. Al-Mu’min: 65).

9)      Yakin bahwa doanya akan dikabulkan oleh Allah Swt.. Tidak kecewa dan tidak gelisah bila doanya belum dikabulkan.

10)  Sering berdoa kepada Allah Swt. Rasulullah saw. bersabda, ”Tidak ada di bumi ini seorang muslim yang berdoa kepada Allah Swt. kecuali pasti Allah Swt. akan memberikan kepadanya, atau memalingkan kejelekan darinya, selama dia tidak berdoa untuk kejelekan dan memutuskan silaturrahim.” Lalu ada seseorang bertanya: ”Dengan demikian kita harus memperbanyak doa?” Rasulullah saw. menjawab, ”Allah Swt. Mahabanyak (rahmat-Nya)” (H.R. Tirmidzi). Maka dari itu, kita harus sering  berdoa kepada Allah Swt. 

11)  Isi doa harus baik. Misalnya memohon ampun, memohon kesehatan, dan memohon anak yang saleh. Tidak boleh mendoakan yang jelek untuk orang lain kecuali orang tersebut benar-benar zalim.

Rasulullah saw. bersabda, ”Apabila seseorang mengutuk (mendoakan keburukan) terhadap sesuatu, kutukan itu mengarah ke langit, tetapi pintu-pintu langit tertutup baginya. Kemudian kutukan itu turun ke bumi, tetapi pintu-pintu bumi juga tertutup baginya. Lalu, dia mengarah ke kanan dan ke kiri, kalau dia tidak mendapat tempat yang sesuai, dia menuju kepada orang yang dikutuk. Kalau yang dikutuk itu wajar menerimanya, jatuhlah kutukan itu atasnya. Kalau tidak wajar, ia kembali menimpa orang yang mengutuk” (H.R. Abu Daud).

Bagi orang yang benar-benar dianiaya, dia diperbolehkan untuk berdoa kepada Allah Swt. agar orang yang menganiaya tersebut mendapat hukuman dari Allah Swt.  Rasulullah saw. bersabda, ”Ada tiga orang yang doanya tidak ditolak yaitu orang yang berpuasa hingga berbuka, penguasa yang adil, dan doa orang yang teraniaya” (H.R. Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu Majah). Doa tersebut pasti diterima sesuai dengan sabda Rasulullah saw. berikut, ”Sesungguhnya Allah Swt. itu Maha Hidup lagi Maha Pemurah.  Apabila seseorang menengadahkan kedua tangannya untuk berdoa, Dia malu untuk menolaknya dalam keadaan hampa dan sia-sia”  (H.R. Tirmidzi).

Rasulullah pun bersabda, ”Janganlah kalian pesimis dalam berdoa, karena sesungguhnya seseorang sekali-kali tidaklah akan celaka dengan sebab berdoa” (H.R. Hakim).
Seandainya doa tidak dikabulkan, maka Allah Swt. akan menggantinya dengan karunia lain yang lebih baik sebagaimana sabda Rasulullah saw., ”Tidaklah seorang muslim itu berdoa,  yang tidak dicampuri dosa dan dalam keadaan tidak memutuskan tali silaturahmi, melainkan Allah Swt. memberi kepadanya salah satu dari tiga hal: adakalanya doanya dikabulkan dengan segera ( langsung ), disimpan untuk di akhirat, atau dengan doa tersebut, ia dijauhkan dari keburukan sebesar kebaikan yang dimohonkannya” (H.R. Ahmad).

Sabtu, 11 Agustus 2012

keutamaan Sholat Tarawih di Malam Ke-28 sampai 30

3 komentar

Berikut Merupakan keutamaan Sholat Tarawih di Malam Ke-28 sampai 30

 

MALAM
KEUTAMAAN
KEDUAPULUH DELAPAN

ALLAH ANGKATKAN BAGINYA SERIBU DERAJAT DIDALAM SURGA.
KEDUAPULUH SEMBILAN

ALLAH BERIKAN PAHALA SERIBU HAJI YANG DITERIMA.

KETIGA PULUH
ALLAH SWT BERFIRMAN:WAHAI HAMBAKU,MAKANLAH OLEHMU DARIPADA BUAH-BUAHAN SURGA DAN MANDILAH DARI AIR SALSABIL DAN MINUMLAH DARI AIR ALKAUTSAR.AKU TUHANMU DAN ENGKAU ADALAH HAMBAKU.

keutamaan Sholat Tarawih di Malam Ke-25 sampai 27

0 komentar

Berikut Merupakan keutamaan Sholat Tarawih di Malam Ke-25 sampai 27

MALAM
KEUTAMAAN
KEDUAPULUH LIMA

ALLAH ANGKATKAN DARIPADA ADZAB KUBUR.
KEDUAPULUH ENAM

ALLAH SWT ANGKATKAN BAGINYA PAHALA 24 TAHUN/
KEDUAPULUH TUJUH

IA AKAN DIMUDAHKAN MELALUI JEMBATAN SHIROTAL MUSTAQIM SECEPAT KILAT MENYAMBAR.

 

keutamaan Sholat Tarawih di Malam Ke-22 sampai 24

0 komentar

Berikut Merupakan keutamaan Sholat Tarawih di Malam Ke-22 sampai 24


 


MALAM
KEUTAMAAN
KEDUAPULUH DUA

DATANG IA PADA HARI KIAMAT DALAM KEADAAN AMAN DALAM DUKA CITA.
KEDUAPULUHTIGA

ALLAH BUATKAN KEPADANYA SEBUAH KOTA DIDALAM SURGA
KEDUAPULUH EMPAT

ADA BAGINYA 24 MACAM DOA YANG MUSTAJAB.