Rabu, 26 September 2012

Beberapa Cara Menghidupkan Hati

1 komentar



Hati yang hidup dan senantiasa mengingat nama Allah merupakan nikmat yang tiada taranya. Sebaliknya, hati yang mati merupakan musibah besar. Jika kita hidup dalam kondisi hati yang mati, maka dalam pandangan Allah hidup kita ini tidaklah berarti.

Di bawah ini ada beberapa hal yang dapat menghidupkan hati kita, yaitu sebagai berikut:

1.  Mengingat Allah SWT

Kita tidak perlu membahas lebih jauh mengenai manfaat dari mengingat Allah, karena sudah jelas bagi kita bahwa orang yang berdzikir dengan khusu’, hatinya tidak pernah mati.

Rasulullah Saw. bersabda: “Perumpamaan orang yang berdzikir (mengingat Allah) dengan yang tidak seperti orang yang hidup dan yang mati” (HR. Bukhari).

Dalam Al-Quran disebutkan :

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”.(Ar-Raad : 28).

2. Mengingat Mati

Manfaat yang bisa diambil dari mengingat mati adalah munculnya motivasi yang luar biasa dalam diri kita untuk terus meningkatkan amal ibadah dan berusaha sekuat tenaga untuk menghindari setiap dosa.

Sa’id bin Jabir (w. 95 H) berkata: “Jika mengingat mati hilang dari dalam hatiku, maka aku takut hatiku ini menjadi rusak.”

3. Ziarah Kubur

Ziarah kubur merupakan perbuatan yang telah banyak ditinggalkan oleh sebagian besar kaum muslimin dewasa ini. Padahal ia sangat berguna untuk menghidupkan hati kita.

Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa Sufyan bin Salim (w. 132 H), seorang ulama salaf, sering datang ke kuburan umum. Ketika diteliti oleh seseorang yang penasaran dengan tingkah laku Sufyan, ternyata di sana dia duduk di depan setiap kuburan sambil menangis, padahal mereka yang dikubur itu bukanlah sanak saudaranya.

Pada saat peristiwa itu diberitahukan kepada Muhammad bin Munkadir (w. 130 H), ia mengatakan: “Mereka itu adalah saudara dan teman-temannya. Ketika hatinya sedang gundah, dia akan melakukankan itu dengan tujuan untuk menggugah hatinya yang gundah dengan cara mengingat orang-orang yang telah mati”.

4. Berkunjung kepada Orang-orang yang Shaleh

Ini merupakan perbuatan yang sangat bermanfaat bagi suasana hati kita. Ja’far bin Sulaiman (w. 123 H), seorang ulama dari golongan Tabi’in berkata:

“Ketika hatiku dilanda kegalauan, aku segera mendatangi Muhammad bin Wasi’ dan menatap wajahnya. Bagiku, beliau bagaikan obat penawar bagi kondisi hatiku”.

Berkunjung dengan orang shalih akan membawa manfaat karena orang shalih itu adalah orang yang menjaga lisannya, ia akan berkata yang baik baik saja, maka kata kata itulah yang akan menggugah hati kita dengan mendengarkan kata yang baik atau sebuah nasehat.

Kita dituntut untuk senantiasa menjaga hati kita agar tidak terjerumus ke dalam godaan setan, seperti riya dan syirik. Abu Hafsh An-Naisaburi (w. 264 H) mengatakan: “Aku menjaga hatiku selama dua puluh tahun, kemudian hatiku menjagaku selama dua puluh tahun”.

Dan sesungguhnya masih banyak cara dalam rangka menghidupkan hati kita, semoga yang sedikit ini kita semua mampu untuk menjalaninya dan mengamalkannya.

Semoga Bermanfaat. Aamiiin...

Allahu A’alam

Selasa, 25 September 2012

Menolong Ayah, Ditolong Allah

1 komentar
Wartaislam.com - Sebidang tanah sudah ditawar Aziz untuk ia beli. Tanah itu persis berada di belakang rumahnya di kawasan Cilangkap. Nilai tanah itu Rp 89 juta. Harga telah disepakati dan Aziz berjanji untuk membayarnya 2 bulan lagi. 

Waktu yang dimaksud telah dekat, Alhamdulillah Aziz pun diberi kemudahan oleh Allah untuk mengumpulkan dana. Namun ada kabar dari kampung bahwa ayah terkena dan perlu dirawat.
Berangkatlah Aziz sekeluarga ke kampung untuk menjenguk ayah. Sang ayah dibawa ke rumah sakit & dirawat dalam waktu yang cukup lama dengan biaya yang tidak sedikit. Atas izin Allah Swt, sang ayah pun kembali ke pangkuan Allah Swt setelah dirawat sekian lama.

Biaya perawatan ternyata tinggi, dan keluarga pun berembug. Saat itu kondisi semua anak-anak ayah sedang kesulitan, padahal biaya perawatan harus dibayar.

Teringat dengan tabungan yang disiapkan untuk pembelian tanah, maka Aziz pun menarik tangan istrinya untuk bicara empat mata. "Ma..., boleh gak uang pembelian tanah kita pakai dulu untuk bayar perawatan ayah?!" tanya Aziz kepada istrinya.

"Emmm....," istrinya hanya bisa bergumam. Ingin sekali ia membantu sekuat tenaga, namun ia khawatir bagaimana dengan janji kepada pemilik tanah. "Kita saja ya yang bayar biaya rumah sakit?!" tanya Aziz mendesak. "Ya, terserah kamu saja, Pa!" jawab sang istri. Setelah sepakat, maka Aziz pun mengambil tabungannya untuk melunasi biaya rumah sakit. Uang sekitar Rp 35 juta rupiah pun dibayarkan kepada pihak rumah sakit tempat ayahnya dirawat.

Aziz & istri berjuang keras untuk mencari dana untuk pembayaran tanah, sedang waktu yang tersisa hanya tinggal sedikit. Hanya Allah Swt satu-satunya sandaran bagi Aziz di saat semua yang bisa diandalkan telah pupus. Hingga akhirnya pertolongan Allah Swt pun tiba di saat kegalauan dan kepanikan memuncak. Dalam sebuah pertemuan keluarga Aziz bertemu dengan seorang sepupunya bernama Hendra.

Sudah bertahun-tahun mereka tidak berjumpa. Saling bertanya kabar dan berbagi pengalaman hidup mengalir dalam pembicaraan mereka. Hingga Hendra bertanya tentang pekerjaan dan dimana Aziz berkantor setiap harinya. "Aku sekarang buka usaha konstruksi, dan kantorku terletak di kawasan Bambu Apus, Jakarta Timur" terang Aziz.

"Bambu Apus yang dekat Taman Mini?!" tanya Hendra. "Ya , betul" tukas Aziz. "Aku punya tanah tuh di daerah itu....!" terang Hendra ringan. Hendra menjelaskan bahwa tanah tersebut berlokasi di jalan Gempol Raya, Bambu Apus. Luas tanah tersebut +/- 860 M2 dan sudah lama hendak dijual namun gak laku-laku.
Mendengar penjelasan Hendra, Aziz pun berkata, "Bagaimana kalau saya saja yang bantu menjualnya?" "Ya, sudah. Tapi aku minta per meternya Rp. 1,5 juta ya!" pinta Hendra. Aziz kemudian menawar bagaimana kalau ia bisa menjual dengan nilai lebih dari yang diminta Hendra. Hendra menjawab, semua kelebihan dari harga yang diminta akan menjadi milik Aziz.

Hasil dari pertemuan tersebut langsung difollow-up oleh Aziz. Ia melihat lokasi tanah milik Hendra dan sesudah itu ia buat sebuah spanduk yang menyatakan bahwa tanah tersebut dijual. Aziz amat optimistis bahwa ia mampu menjual tanah tersebut!

Hari itu adalah hari Jum'at. Hari yang amat penuh berkah. Ia dan 2 orang staffnya saat itu berada di lokasi tanah Hendra untuk memasang spanduk. Spanduk itu berisikan tulisan tentang info singkat tanah dan kontak person Aziz berikut nomer telpon yang bisa dihubungi. Persis seperti keyakinan Aziz, habis pulang shalat Jum'at ia ditelpon oleh seseorang. Penelpon itu menanyakan berapa harga per meter tanah yang diminta. Aziz menjelaskan bahwa harga per meternya adalah Rp. 1.650.000,-.

Pria penelpon itu mengatakan bahwa ia berminat namun ia hendak rembug dengan istrinya terlebih dahulu. Namun ada satu permintaan penelpon itu yang membuat Aziz tambah optimistis. "Pak Aziz, habis maghrib saya akan telpon lagi, namun boleh gak spanduknya diturunkan dulu agar tidak ada orang lain yang beli!" pinta pria penelpon. "Baik, pak! Spanduk itu akan saya turunkan, asalkan bapak serius berminat beli tanah itu..." jawab Aziz.

Betul saja, lepas Maghrib pria tadi menelpon kembali. Dalam pembicaraan per telpon tersebut sang pria menawar harga tanah menjadi Rp 1.600.000,- per meter. Aziz dengan sigap menyetujui harga tersebut. Singkat kata maka tanah tersebut pun dijual kepada pria tadi. Ada selisih Rp 100 ribu per meter dari harga penjualan yang menjadi milik Aziz. Luas tanah 860 M2 membuat Aziz mengantongi keuntungan selisih jual tanah menjadi Rp 86 juta. Aziz bersyukur kepada Allah Swt atas karunia yang amat mudah dan gampang prosesnya ini.

Hari jatuh tempo pembayaran tanah sudah tiba. Sang pemilik tanah datang dengan tersenyum membayang setumpuk uang yang akan ia terima. Demikian juga Aziz dan istri pun tersenyum. Tidak hanya akan mendapatkan halaman belakang rumah bertambah luas, akan tetapi Aziz & istri tersenyum karena membayangkan begitu indah mereka bisa punya kemampuan membayar tanah seharga Rp 89 juta dalam waktu yang amat sempit.

Subhanallah..., rupanya harga tanah yang ia bayar hanya selisih Rp 3 juta dari komisi penjualan yang ia dapatkan dari tanah Hendra. Aziz meyakini proses pembayaran tanah belakang rumah tidak semudah ini, anda ia dan istri tidak tergerak untuk membantu pembayaran biaya rumah sakit ayah. Aziz bergumam, "Inilah balasan kebaikan yang ia dapat sebab menolong orang tua.... sehabis menolong ayah, eh.... kontan langsung ditolong Allah!"***(kaunee/WI-001)

Senin, 24 September 2012

Meluruskan Kembali Makna Hijab

2 komentar
Tak dapat dipungkiri, betapa senangnya kita belakangan ini menyaksikan maraknya kaum wanita yang berlomba-lomba mendeklarasikan dirinya telah berhijab. Di setiap tempat, di jalan, kampus, mal, dan tentu saja dalam berbagai kesempatan telah kita dapati banyaknya muslimah yang tak lagi menampakkan keindahan perhiasan diri  yang mereka katakan telah berhijab.

Untuk mensyiarkan hijab ini, berbagai komunitas dibentuk oleh para muslimah. Sebut saja Hijabers Community, Komunitas Hijabers Bekasi, Komunitas Hijab Indonesia, dan banyak lagi nama lain yang merupakan wadah berkumpulnya para muslimah yang telah dan ingin mengajak serta muslimah lain untuk berhijab.

Tak ada ungkapan selain kebanggaan terhadap usaha para muslimah tersebut. Di saat yang lain under estimate untuk membentuk  komunitas-komunitas dengan tidak berani mengusung  nilai-nilai Islam, mereka justru dengan bangga membuat wadah perkumpulan muslimah yang di dalamnya berisi orang-orang yang secara sadar menanggalkan busana yang jauh dari nilai-nilai Islam dan mengajak serta orang lain untuk mengikutinya.

Saking maraknya, berbagai media baik cetak maupun elektronik tak mau ketinggalan mempublikasikan setiap kegiatan yang dilakukan oleh komunitas-komunitas hijab. Juga beragam talk show yang menghadirkan perwakilan dari komunitas-komunitas tersebut untuk bicara visi misi serta tujuan dibentuknya komunitas yang fenomenal itu.

Komunitas hijab beserta apa yang dikenakan menjadi trend. Berbondong-bondong para muslimah, khususnya di negeri ini, mengikuti gaya berbusana dengan apa yang mereka sebut hijab. Bahkan untuk melariskan produknya, belakangan tentu tak asing bagi kita menyaksikan sebuah iklan televisi yang di salah satu adegannya adalah bunyi dialog, “Wah,kamu sudah berhijab ya!”.

Hijab Dulu dan Kini

Apa yang menjadi pesan dalam tiap perkataan dan aktivitas serta apa yang dikenakan oleh muslimah dalam berbagai komunitas hijab tersebut telah dengan gamblang tersampaikan. Bahwa hijab bermakna telah menutup aurat, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Para disainer dalam berbagai peragaan busana muslim pun menegaskan hal tersebut.

Namun jika dicermati, apakah makna hijab yang ingin disampaikan oleh kebanyakan disainer  muslim masa kini dengan berbagai komunitas hijab sebagai icon telah mewakili makna hijab yang sesuai dengan Al Qur’an dan Sunnah?

Al Hijab berasal dari kata hajaban yang artinya menutupi, dengan kata lain al hijab adalah benda yang menutupi sesuatu. Dalam kitab Al Ta’rifat dijelaskan bahwa Al Hijab adalah segala sesuatu yang terhalang dari pencarian kita, dalam arti bahasa berarti ma’nu yaitu mencegah, contohnya mencegah diri kita dari penglihatan orang lain.

Dari berbagai pengertian di atas maka dapat disimpulkan seperti apa yang dikatakan oleh Al-Zabidy dalam kitabnya Taj al-‘Urus, bahwa yang dimaksud dengan al-Hijab adalah segala sesuatu yang menghalangi antara kedua belah pihak. Artinya ada sebuah benda yang menghalangi penglihatan kita terhadap orang lain, contohnya, ketika ada dua orang sedang berbicara, tetapi di tengah-tengah mereka terdapat tembok yang besar, sehingga dengan adanya tembok yang besar itu mengakibatkan kedua orang tersebut tidak melihat satu sama lain. Nah…tembok inilah yang dinamakan al-Hijab.

Dalam Al-Qur’an pun disebutkan tentang al-Hijab ini, walaupun satu ayat, tetapi bermakna sangat dalam sekali terhadap definisi al-Hijab itu sendiri, sehingga ayat ini diberi nama dengan “Ayat Hijab”.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah- rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk Makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu diundang Maka masuklah, dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri- isteri Nabi), Maka mintalah dari belakang tabir. cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini isteri- isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah Amat besar (dosanya) di sisi Allah.” (QS.Al Ahzab:53)

Yang dimaksud dengan al-Hijab pada ayat di atas adalah, tabir pembatas yang menghalangi wanita dari penglihatan orang lain, tetapi bukan sesuatu yang dipakai seperti pakaian, celana maupun jilbab akan tetapi berbentuk sebuah pemisah seperti tembok, korden dan lain sebagainya.

Mengacu pada ayat di atas bahwa ketika pada zaman Nabi Muhammad Saw, ada orang asing yang datang kepada istri beliau untuk bertemu dikarenakan ada sesuatu urusan, maka Nabi pun mengizinkannya akan tetapi memerintahkan agar istrinya bertemu dibalik tabir.

Meski hal tersebut hanya berlaku untuk istri-istri Nabi, namun demi menjaga kesucian diri di jaman sekarang pun sebagai contoh dapat kita saksikan bagaimana para aktivis Islam dalam setiap kegiatan terutama ketika melakukan syuro’ (rapat) di sebuah ruangan, maka digunakanlah oleh mereka hijab untuk memisahkan ruang antara laki-laki dan perempuan. Juga dalam kegiatan seminar ke-Islaman, diskusi, pengajian, dan lain sebagainya hal tersebut lazim dilakukan demi menjaga agar tidak terjadi ikhtilath (campur baur) antara laki-laki dan perempuan dan dapat menimbulkan fitnah.

Sekali Lagi: Syariat Bicara Jilbab!

Kita berlindung kepada Allah dari aktivitas mencela usaha kebaikan yang dilakukan oleh saudara seiman. Namun, apresiasi tersebut jangan sampai menghalangi kita untuk menyampaikan yang haq kepada saudara seiman yang kita cintai. Karena kita tidak ingin, muslimah yang tulus mencari kebenaran tentang aturan berpakaian yang telah digariskan oleh syariat, terbelok persepsinya karena tayangan televisi dan apa-apa yang hari ini dianggap sedang menjadi trend.

Ketika kebanyakan disainer muslim masa kini serta para muslimah yang tergabung dalam berbaagai komunitas hijab menyatakan bahwa yang mereka maksud dengan hijab adalah busana yang mereka kenakan, maka uraian di atas mudah-mudahan mampu memberikan pencerahan, bahwa hijab adalah pembatas yang digunakan dalam menjaga interaksi antara laki-laki dan perempuan.

Juga jika yang dimaksud dengan hijab adalah bermakna busana muslimah dengan tujuan menutup aurat, maka mari kita segarkan ingatan bahwa Allah swt telah dengan tegas memberikan aturan kepada para muslimah dalam berbusana,

“Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS.Al Ahzab:59)

Semoga tidak ada kebosanan dalam mengkaji dan mengingat-ingat kembali pesan-pesan yang datang dari Allah Sang Pembuat aturan, meski uraian tentang busana muslimah ini telah berulang kali dibahas baik dalam rubrik ini maupun di media-media lain.

Ya, yang dimaksud jilbab dalam ayat di atas adalah baju terusan panjang yang diulurkan ke seluruh tubuh. Ingat, seluruh tubuh, bukan tubuh bagian atas sepotong, ditambah bagian bawah sepotong. Melainkan adalah model pakaian yang langsung menutupi seluruh tubuh, dari atas hingga bawah. Nah, kebanyakan kita biasa menyebutnya gamis.

Sedangkan untuk penutup kepala, tanpa perlu banyak perdebatan, Allah juga telah dengan gamblang menjelaskan dalam firman-Nya,

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya...” (QS.An Nuur:31)

Sekali lagi, demi menyegarkan ingatan serta pemahaman kita, inilah syarat-syarat busana muslimah yang sesuai dengan apa yang telah digariskan oleh Al Qur’an dan Sunnah:

Pertama, harus menutupi seluruh tubuh, kecuali wajah dan telapak tangan.

Hal ini ditegaskan oleh Allah dalam firman-Nya,
“Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab:59)

Yang dimaksud jilbab dalam ayat ini telah diuraikan di atas.
Adapun penutup kepalanya adalah seperti disebutkan dalam Al Qur’an surat An Nuur ayat 31 tadi,

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya...”

Ya, kerudung yang sesuai dengan perintah Allah SWT adalah kerudung yang jika dipakai dapat menutup seluruh bagian kepala hingga ke dada. Dan soal ini tidak ada tawar menawar.

Kedua, pakaian yang dikenakan bukan dari kain yang tipis dan tembus pandang.

Dalam hal ini Rasulullah saw bersabda,
“Pada akhir ummatku nanti akan ada wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang. Diatas kepala mereka seperti terdapat punuk unta. Kutuklah mereka karena sebenarnya mereka adalah kaum yang terkutuk”  (HR. Ahmad 2/223.Menurut Al-Haitsami rijal Ahmad adalah rijal shahih)

Ketiga, longgar dan tidak ketat sehingga dapat menampakkan lekuk tubuh.

Keempat, tidak diberi wewangian / parfum.

Harus kita waspadai, di dunia barat sekuler  salah satu “fungsi” parfum adalah sebagai alat seducing man (menggoda laki-laki).
Begitulah mudharat dari parfum yang dipakai oleh perempuan (di luar rumah).

“Siapapun perempuan yang memakai wewangian, lalu ia melewati kaum laki-laki agar mereka mendapatkan baunya, maka ia adalah pezina”
(HR.An-Nasai II:38,Abu dawud II:92, At-Tirmidzi IV:17, At-Tirmidzi menyatakan hasan shahih)

Kelima, tidak tasyabbuh (menyamai) pakaian orang kafir.

Tasyabbuh sudah jelas dilarang oleh Rasulullah, baik itu dilakukan oleh muslim ataupun muslimah. Dari Abdullah bin Amru bin Ash dia berkata:

“Rasulullah melihat saya mengenakan dua buah kain yang dicelup dengan warna ushfur, maka beliau bersabda: Sungguh ini merupakan pakaian orang-orang kafir maka jangan memakainya”
(HR.Muslim,6/144, hadits Shahih)

Keenam, Isbal (panjang melewati mata kaki).

Berbeda dengan laki-laki yang diharamkan isbal, maka perempuan diwajibkan untuk isbal.
Ibnu Umar berkata, Rasulullah saw bersabda,

“Barangsiapa menghela pakaiannya lantaran angkuh, maka Allah tidak akan sudi melihatnya pada hari kiamat. Lantas Ummu Salamah bertanya:”Lalu, bagaimana yang mesti dilakukan oleh kaum wanita denngan bagian ujung pakaiannya? Beliau menjawab: hendaklah mereka menurunkan satu jengkal!Ummu Salamah berkata: Kalau begitu telapak kaki mereka terbuka jadinya. Lalu Nabi bersabda lagi:Kalau begitu hendaklah mereka menurunkan satu hasta dan jangan lebih dari itu!” (HR.Tirmidzi (III/47) At-Tirmidzi berkata hadits ini Shahih)

Semoga tak ada lagi kebingungan di tengah para muslimah dalam menentukan mode berpakaian, sebab syariat telah sangat jelas mengaturnya.

Tentu kita berharap, ke depan akan lebih banyak lagi muslimah-muslimah yang mendirikan komunitas-komunitas kebaikan yang benar-benar sesuai dengan nilai-nilai Islam yang yang murni serta bersumber dari Al Qur’an dan Sunnah, baik dalam hal berpakaian maupun hal-hal lain yang kebaikannya dapat terekspos melalui beragam media. Ya, sebagaimana media begitu gencar mempublikasikan mode berpakaian muslimah ala disainer muslim yang marak belakangan ini.

Agar nilai-nilai Islam tersebar sempurna dan tak ada penyalahan serta kesalahan persepsi dalam beragam aktifitas dan perilaku yang sebenarnya merujuk pada nilai-nilai Islam. Dan tentu saja, agar Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam dapat tersampaikan secara benar dan sempurna di tengah-tengah umat. Wallahu’alam
.

Sabtu, 22 September 2012

Hadits-Hadits tentang Keutamaan Mengajarkan Kebaikan

2 komentar

Ada banyak hadits yang menginformasikan kepada kita tentang keutamaan mengajarkan ilmu dan kebaikan kepada orang lain. Rasulullah saw. memberikan panduan bahwa setelah belajar sangat baik apabila kita mengajarkannya kembali. Sebab, tidak ada teknik belajar yang paling baik selain mengajar. Dengan mengajarkan ilmu, selain bahwa kita akan semakin mamahami dan menguasai ilmu tersebut, Allah Swt. akan menganugerahkan pengetahuan-pengetahuan lain yang belum kita miliki. Berikut ini beberapa buah hadits tentang keutamaan mengajarkan kebaikan yang kami ambil dari kitab karangan Imam Al Hafidz Al Mundziri tentang hadits-hadits targhib (menganjurkan amal kebajikan) dan tarhib ( memperingatkan amal keburukan).
  1. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw. Bersabda sebagai berikut.
 “Barangsiapa mendatangi masjidku ini, dan dia tidak mendatanginya kecuali untuk kebaikan yang dipelajarinya atau yang diajarkannya, maka dia seperti seorang mujahid di jalan Allah; dan barangsiapa datang bukan untuk niat itu, maka dia seperti orang yang (hanya) melihat kesenangan orang lain.” (HR Ibnu Majah dan Baihaqi)
  1. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa dia mendengar Rasulullah saw. Bersabda sebagai berikut.
“Apabila anak Adam meninggal dunia maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga hal, (yaitu) sedekah jariah, ilmu yang diamalkan (diajarkan), dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR Muslim)
  1. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw. Bersabda sebagai berikut.
 “Sesungguhnya, di antara amal kebajikan yang akan menyusul seorang Mukmin setelah kematiannya adalah ilmu yang diajarkan dan disebarkan, anak saleh yang ditingglkan, mushaf yang diwariskan, masjid yang didirikan, rumah untuk ibnu sabil yang dibangun, sungai yang dialirkan, atau sedekah yang dia keluarkan dari hartanya pada masa sehatnya dan masa hidupnya; (semua amal itu) akan menyusulnya setelah kematiannya.” (HR Ibnu Majah, Baihaqi, dan Ibnu Khuzaimah)
  1. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw. Bersabda sebagai berikut.
 “Barangsiapa mengajak pada petunjuk (amal saleh), maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sama sekali; dan barangsiapa mengajak pada kesesatan, maka atasnya dosa seperti dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sama sekali.” (HR Muslim)
  1. Dari Ali bin Abi Thalib tentang firman Allah Swt. berikut.
Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan..” (QS At Tahrim, 66: 6), dia berkata, “Ajarkanlah kebaikan kepada keluarga kalian.” (HR Al Hakim)
  1. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw. Bersabda sebagai berikut.
Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu kemudian dia menyembunyikannya, maka dia akan dikekang pada hari Kiamat dengan kekang dari api neraka.” (HR Abu Dawud, At Tirmidzi, Ibnu Majah, Baihaqi, Al Hakim, dan Ibnu Hibban).
Hal senada disampaikan pula oleh Abdullah bin Amer bahwa Rasulullah saw. bersabda sebagai berikut.
Barang siapa menyembunyikan ilmu, maka Allah akan mengekangnya pada hari Kiamat dengan kekang dari api neraka.” (HR Ibnu Hibban dan Al Hakim)
  1. Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, bahwa Rasulullah saw. bersabda sebagai berikut.
 “Tidak ada kedengkian kecuali dalam dua hal, (yaitu) seseorang yang dikaruniai Allah harta kekayaan kemudian dia menghabiskannya di dalam kebenaran (di jalan Allah), dan seseorang yang dikaruniai hikmah (ilmu) kemudian dia mengamalkan dan mengajarkannya.” (HR Bukhari Muslim) 

Pelajarilah ilmu, mempelajari ilmu karena Allah itu mencerminkan ketaatan, mencarinya adalah ibadah, mengkajinya adalah tasbih, mengajarkannya adalah sedekah, membelanjakannya untuk keluarga adalah taqarrubIlmu adalah pendamping saat sendirian dan teman karib saat menyepi.” 

 — Mu’adz bin Jabal —

Kamis, 20 September 2012

Hadits-Hadits tentang Keutamaan Mengajarkan Kebaikan

1 komentar

Ada banyak hadits yang menginformasikan kepada kita tentang keutamaan mengajarkan ilmu dan kebaikan kepada orang lain. Rasulullah saw. memberikan panduan bahwa setelah belajar sangat baik apabila kita mengajarkannya kembali. Sebab, tidak ada teknik belajar yang paling baik selain mengajar. Dengan mengajarkan ilmu, selain bahwa kita akan semakin mamahami dan menguasai ilmu tersebut, Allah Swt. akan menganugerahkan pengetahuan-pengetahuan lain yang belum kita miliki. Berikut ini beberapa buah hadits tentang keutamaan mengajarkan kebaikan yang kami ambil dari kitab karangan Imam Al Hafidz Al Mundziri tentang hadits-hadits targhib (menganjurkan amal kebajikan) dan tarhib ( memperingatkan amal keburukan).
  1. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw. Bersabda sebagai berikut.>
 “Barangsiapa mendatangi masjidku ini, dan dia tidak mendatanginya kecuali untuk kebaikan yang dipelajarinya atau yang diajarkannya, maka dia seperti seorang mujahid di jalan Allah; dan barangsiapa datang bukan untuk niat itu, maka dia seperti orang yang (hanya) melihat kesenangan orang lain.” (HR Ibnu Majah dan Baihaqi)
  1. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa dia mendengar Rasulullah saw. Bersabda sebagai berikut.
“Apabila anak Adam meninggal dunia maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga hal, (yaitu) sedekah jariah, ilmu yang diamalkan (diajarkan), dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR Muslim)
    Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw. Bersabda sebagai berikut.
 “Sesungguhnya, di antara amal kebajikan yang akan menyusul seorang Mukmin setelah kematiannya adalah ilmu yang diajarkan dan disebarkan, anak saleh yang ditingglkan, mushaf yang diwariskan, masjid yang didirikan, rumah untuk ibnu sabil yang dibangun, sungai yang dialirkan, atau sedekah yang dia keluarkan dari hartanya pada masa sehatnya dan masa hidupnya; (semua amal itu) akan menyusulnya setelah kematiannya.” (HR Ibnu Majah, Baihaqi, dan Ibnu Khuzaimah)
  1. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw. Bersabda sebagai berikut.
 “Barangsiapa mengajak pada petunjuk (amal saleh), maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sama sekali; dan barangsiapa mengajak pada kesesatan, maka atasnya dosa seperti dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sama sekali.” (HR Muslim)
  1. Dari Ali bin Abi Thalib tentang firman Allah Swt. berikut.
Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan..” (QS At Tahrim, 66: 6), dia berkata, “Ajarkanlah kebaikan kepada keluarga kalian.” (HR Al Hakim)
  1. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw. Bersabda sebagai berikut.
Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu kemudian dia menyembunyikannya, maka dia akan dikekang pada hari Kiamat dengan kekang dari api neraka.” (HR Abu Dawud, At Tirmidzi, Ibnu Majah, Baihaqi, Al Hakim, dan Ibnu Hibban).
Hal senada disampaikan pula oleh Abdullah bin Amer bahwa Rasulullah saw. bersabda sebagai berikut.
Barang siapa menyembunyikan ilmu, maka Allah akan mengekangnya pada hari Kiamat dengan kekang dari api neraka.” (HR Ibnu Hibban dan Al Hakim)
  1. Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, bahwa Rasulullah saw. bersabda sebagai berikut.
 “Tidak ada kedengkian kecuali dalam dua hal, (yaitu) seseorang yang dikaruniai Allah harta kekayaan kemudian dia menghabiskannya di dalam kebenaran (di jalan Allah), dan seseorang yang dikaruniai hikmah (ilmu) kemudian dia mengamalkan dan mengajarkannya.” (HR Bukhari Muslim) 

Pelajarilah ilmu, mempelajari ilmu karena Allah itu mencerminkan ketaatan, mencarinya adalah ibadah, mengkajinya adalah tasbih, mengajarkannya adalah sedekahmembelanjakannya untuk keluarga adalah taqarrubIlmu adalah pendamping saat sendirian dan teman karib saat menyepi.” 

 — Mu’adz bin Jabal —

Membiasakan Wudu Sebelum Tidur

1 komentar

1) Sangat beruntung meninggal dalam keadaan berwudu. Oleh karena itu, bercita-cita besar untuk bisa meninggal dalam keadaan berwudu menjadi awal yang sangat baik. Orang meninggal dalam keadaan berwudu akan menjadi manusia yang bercahaya pada hari akhir nanti sehingga bisa bertemu Allah dengan muka bercahaya. Dengan memiliki cita-cita seperti ini, seseorang akan senantiasa menjaga wudunya, tidak hanya ketika akan shalat atau pergi ke masjid, tetapi juga dalam setiap waktunya. Betapa tidak, tidak ada seorang pun yang tahu kapan dan di mana maut akan menjemputnya.

2) Memahami benar-benar keutamaan menjaga wudu, khususnya ketika hendak tidur, menjadi bagian selanjutnya yang sangat baik. Jika kita tidur enam jam dalam keadaan suci, sepanjang waktu itu pula malaikat akan mendoakan kita dan memintakan ampunan kepada Allah atas dosa-dosa kita. Boleh jadi, ketika bangun tidur, kita bangun dalam keadaan suci karena dosa-dosa kita telah berguguran. Andaipun kita tertidur dan tidak bangun lagi, insya Allah pahala surga sudah menunggu kita.

3) Mulai membiasakan diri berwudu sebelum tidur. Wudu sebelum tidur itu sangat berat bagi orang yang tidak terbiasa melakukannya. Sebaliknya, menjadi sangat ringan bagi orang yang sudah terbiasa melakukannya, bahkan ada yang sulit dan tidak nyenyak tidur jika mereka tidak berwudu dulu sebelum tidur. Ada sesuatu yang hilang jika tidak berwudu. Awalnya memang berat, tetapi kemudian menjadi nikmat.

 4) Bertahap. Awalnya, buatlah target bahwa malam ini kita harus berwudu dulu jika hendak tidur. Ulangi lagi keesokan harinya. Demikian seterusnya. Biasanya, jika satu minggu kita bisa istikamah melakukannya, insya Allah ke depannya akan menjadi lebih mudah.

5) Bagaimana jika batal? Gampang … tinggal perbarui lagi wudu kita. Jika tidak memungkinkan? Ya jangan dilakukan. Asal kita sudah berusaha, it’s no problem. Allah Mahatahu keinginan dan ikhtiar kita dalam menegakkan sunah Rasul-Nya.

6) Mengajak keluarga kita: anak, istri atau suami, pembantu, dan orang-orang di rumah untuk membiasakan diri berwudu sebelum tidur akan melahirkan semangat saling mengingatkan dan saling menguatkan di rumah kita. Terlebih bagi seorang anak, dengan membiasakannya berwudu sebelum tidur, akan terbentuk sikap hidup positif pada kemudian hari.

7) Memohonlah kepada Allah Swt. agar kita dijadikan sebagai orang yang senantiasa menjaga kesucian diri. Salah satunya dengan senantiasa menjaga wudu.

 “Jika seorang hamba melakukan kebaikan, maka kebaikan itu akan mendorongnya untuk melakukan kebaikan yang lain. Jika seorang hamba melakukan keburukan, dia pun akan cenderung melakukan keburukan lainnya sehingga keburukan itu menjadi kebiasaannya.” 

— Salafus Shalih —

Keutamaan Bacaan Al-Fatihah

1 komentar

Ada banyak amal kebajikan yang mendapatkan doa dari malaikat. Salah satu amal kesayangan Rasulullah saw. yang sangat diagungkan para malaikat sehingga mengundang doa-doa dan perhatian mereka adalah shalat berjamaah. Tidak sekadar shalat berjamaahnya saja, tetapi juga aspek-aspek lain dari shalat berjamaah tersebut, mulai dari bersegera pergi ke masjid ketika azan berkumandang, saat menunggu waktu shalat, saat berada di shaf terdepan, ketika kita menyambungkan shaf dengan mengisi tempat yang kosong di dalam shaf, berdiam diri di tempat shalat setelah shalat untuk berzikir dan berdoa, termasuk pula ketika kita mengaminkan bacaan Al Fâtihah yang dikeraskan oleh imam. Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda sebagai berikut.

Jika seorang imam membaca ‘ghairil ûmaghdhûbi ‘alaihim waladh dhâllîn’, maka ucapkanlah oleh kalian ‘âmîn’, karena barang siapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, dia akan diampuni dosanya yang masa lalu.” (HR Bukhari dari Abu Hurairah)

Mengapa ada malaikat dan pengampunan dosa dalam ucapan âmîn setelah imam membaca Al Fâtihah ketika shalat berjamaah? Hal ini boleh jadi berkaitan erat dengan keutamaan Surat Al Fâtihah itu sendiri. Ada banyak bacaan dalam shalat, akan tetapi bacaan Al Fâtihah-lah yang keutamaannya secara eksplisit disebutkan di dalamnya, yaitu bahwa Allah Swt. akan mengampuni dosa seorang jamaah shalat ketika bacaan “âmîn”-nya bersamaan dengan bacaan “âmîn” para malaikat yang menyaksikan shalat berjamaah tersebut.
Al Fâtihah adalah surat yang sangat istimewa dan diagungkan oleh Nabi saw. Beliau pernah bersabda sebagai berikut.

Ketahuilah, aku akan mengajarkan kepada kalian satu surah yang paling agung di dalam Al Qur’an Al Karim. Dia adalah Alhamdulillâhi Rabbil ‘Alamîn, dia adalah tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dalam Al Qur’an yang agung.” (HR Bukhari)  

Ibnu Abbas meriwayatkan pula sebuah hadits, “Ketika Jibril duduk di samping Rasulullah saw., dia mendengarkan seruan dari atas, kemudian dia mengangkat kepalanya seraya berkata, ’Pintu langit telah terbuka, padahal sebelum hari ini pintu itu sama sekali tidak pernah terbuka. Lalu, ada satu malaikat yang turun ke bumi melalui pintu itu, padahal sebelumnya tidak ada malaikat yang turun darinya. Kemudian malaikat itu mengucapkan salam kepada Nabi, ‘Aku membawa kabar gembira berupa dua cahaya yang belum pernah diberikan kepada nabi sebelum dirimu, yaitu Surat Al Fâtihah dan ayat-ayat terakhir Surat Al Baqarah. Setiap kali engkau membaca ayat-ayat itu, niscaya engkau akan dikaruniai cahaya tersebut’.”

Keistimewaan Al Fâtihah ini dapat dilihat dari banyaknya nama yang dimilikinya, yaitu sekitar 35 nama. Sebagian di antaranya adalah: Ummul Kitaab (Induk Al Qur’an), Al Asaas (Asas Segala Sesuatu), Al Kanz (Perbendaharaan), Ar Ruqyah (Mantera), Al Hamd (Pujian), Asy Syukr (Syukur), Asy Syaafiyah (Penyembuhan), Al Kaafiyah (Yang Mencukupi), As Sab’ul Matsaani (Yang Diulang-Ulang), Ad Du’a atau Ash Shalaah (Doa).  Tidak ada satu pun surat dalam Al Qur’an yang memiliki nama sebanyak Al Fâtihah. Hal ini membuktikan ada banyak keutamaan, fadhilah, manfaat, keuntungan yang bisa kita dapatkan dari surat ini. Sebab, setiap satu nama mewakili minimal satu keutamaan.

Ada argumen menarik dari ahli tafsir generasi thabi’in, yaitu Muhammad Al Biqa’i, tentang keagungan Al Fâtihah yang tercermin dari nama-nama yang disandangnya. ”Semua nama-nama itu mengandung dan berkisar tentang sesuatu yang tersembunyi, yang dapat mencukupi segala kebutuhan, yaitu pengawasan melekat dari Allah Azza wa Jalla. Segala sesuatu yang tidak dapat dibuka, tidak akan memberi nilai. Al Fâtihah adalah pembuka segala kebaikan, asas segala yang ma’ruf, shalat tidak dinilai sah kecuali jika ia dibaca diulang-ulang di dalamnya. Dia adalah perbendaharaan menyangkut segala sesuatu. Dia menyembuhkan segala penyakit, mencukupi manusia dalam mengatasi segala keresahan, melindunginya dari segala keburukan dan menjadi mantera dalam segala kesulitan. Surat inilah yang yang merupakan ketetapan bagi pujian yang mencakup segala sifat kesempurnaan dan kesyukuran yang mengandung pengagungan kepada Allah, Zat Pemberi Nikmat. Dia pula yang menjadi inti doa, karena doa adalah menghadapkan diri kepada-Nya, sedangkan doa yang teragung tersimpul di dalam hakikat shalat.” (Quraish Shihab, 2005: 249-250)

Sungguh tepat apa yang digambarkan Muhammad Al Biqa’i tentang keutamaan Al Fâtihah ini. Perintah Allah Swt. agar kita mengulang-ulang Al Fâtihah dalam shalat sudah menjadi sebuah jaminan akan keistimewaannya, sehingga tidak ada satu pun surat yang sedemikian sering dibaca selain Al Fâtihah. Jika sehari semalam saja minimal 17 kali kita membaca Al Fâtihah, maka dalam seminggu kita sudah membaca 119 kali, sebulan membaca 476 kali, dan setahun 5712 kali. Luar biasa! Dalam lima tahun saja, minimal kita membaca 28.560 kali. Itu baru dalam shalat yang lima waktu. Jumlah ini akan bertambah jika kita menghitung bacaan Al Fâtihah dalam shalat sunnah, dalam acara syukuran, dan sebagainya.

Dari sekian banyak nama Al Fâtihah, ada satu nama yang sangat relevan dengan pembahasan kita kali ini, yaitu Al Fâtihah sebagai Ad Du’a atau Surat Doa. Mengapa dinamai Surat Doa? Jika kita perhatikan, dalam QS Al Fâtihah, di mana setelah kata basmalah dan sebelum bermohon, kita dianjurkan untuk memuji Allah dengan mengucapkan hamdalah, dilanjutkan dengan menyebut beberapa sifat dan perbuatan Allah yang terpuji. Baru kemudian bermohon dengan kalimat “Ihdinash Shirâthal Mustaqîm.

Sebagai doa teragung, sangat wajar apabila Allah Swt. menjadikan Al Fâtihah sebagai bacaan wajib di dalam shalat. Ketika seorang Muslim membaca Al Fâtihah sepenuh penghayatan, ketika itu pula terjadi dialog yang sangat indah antara dia dengan Allah Swt. Dialog ini tergambar dalam sebuah hadits qudsi sebagai berikut.

Allah Azza wa Jalla berfirman, “Aku membagi shalat di antara Aku dengan hamba-Ku menjadi dua bagian, dan hamba-Ku boleh meminta apa saja yang dia mau. Ketika dia mengucapkan “Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam (Alhamdulillâhi Rabbil Âlamin)”, maka Allah Swt. menjawab, “Hamba-Ku telah memuji-Ku.” Ketika dia mengucapkan, “Maha Pengasih lagi Maha Penyayang (Ar Rahmân Ar Rahîm),” maka Allah Swt. menjawab, “Hamba-Ku telah memberikan pujian kepada Diri-Ku.” Ketika dia mengucapkan, “Raja yang menguasai hari pembalasan (Mâliki yaumiddîn),” maka Allah Swt. menjawab, “Hamba-Ku telah memuliakan-Ku”. Ketika dia mengucapkan, “Hanya kepada Engkau-lah kami menyembah dan hanya kepada Engkau-lah kami memohon pertolongan (Iyyaka na’budû wa iyyaka nasta’în),” maka Allah Swt. menjawab, “Inilah saatnya hamba-Ku menyampaikan permintaan dan Aku harus mengabulkannya.” Ketika dia mengucapkan, “Tunjukilah aku ke jalan yang lurus, jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan jalan mereka yang Engkau murkai dan bukan pula jalannya orang-orang yang sesat (Ihdina shirathal mustaqîm, shirathal ladzîna an’amta ‘alaihim ghairail maghdhûbi ‘alaihim waladzhâllîn),” Allah Swt. pun menjawab, “Inilah saat yang dimiliki oleh hamba-Ku dan Aku harus mengabulkan permintaannya’.” (HR Muslim, Abu Daud, dan At Tirmidzi)

Saudaraku yang dicintai Allah, kebahagiaan seperti apa yang bisa menandingi kebahagiaan ketika kita yang hina dina ini bisa berdialog dengan Allah Swt., Zat Pemilik Alam Semesta? Tidak tanggung-tanggung, Dia memberi kita kesempatan minimal 17 kali sehari untuk berdialog dengan-Nya melalui Al Fâtihah; surat teragung dalam Al Qur’an. Dan, dalam setiap kesempatan itu pula Allah Swt. memberikan janji berupa pengabulan dari apa yang diucapkan seorang hamba melalui Al Fâtihah itu.

Oleh karena itu, dengan melihat keutamaan Al Fâtihah dan keindahan doa yang ada di dalamnya, sangat pantas apabila para malaikat mengaminkan bacaan Al Fâtihah dalam shalat berjamaah, dan Allah menjanjikan ampunan bagi mereka yang ikut mengaminkan bacaan tersebut. Jika saja kita bisa memahami dan menghayati realitas ini, tidak mungkin bagi kita untuk membaca Al Fâtihah seenaknya, tanpa perhatian, dan tanpa perasaan apa-apa. Dengan memahami hal ini, kita pun tidak akan rela kalau kita sampai tidak ikut shalat berjamaah di masjid atau ketinggalan bacaan Al Fâtihah dari imam.

“Ketahuilah, semua rahasia suci—firman Allah yang disampaikan kepada manusia dalam seratus catatan kitab suci masa silam, Zabur, Taurat, Injil— terangkum dalam Al Qur’an. Keseluruhan Al Qur’an terangkum dalam Al Fâtihah. Keseluruhan Al Fâtihah tercakup dalam ayat permulaan (basmalah)   Hakikat segala sesuatu tercakup dalam yang awal di antara yang awal, huruf pertama, Bâ’, yang berisi: bi kâna mâ kana wa bi yakûn mâ yakûn (Apa pun yang menjadi, menjadi melalui Aku, dan apa pun yang akan menjadi, akan menjadi melalui Aku)  

Hakikat tertinggi berada pada titik di bawah huruf Bâ’. Dan, ketahuilah bahwa al ’ilm nuqthaun (semua pengetahuan adalah sebuah titik) ”

— Syihabuddin Yahya Al Suhrawardi —

Senin, 17 September 2012

FUI : Hukum Mati Penghina Nabi..!!

4 komentar

PERNYATAAN PERS FUI
HUKUM MATI PENGHINA NABI!


Penghinaan terhadap Nabi Muhammad Saw adalah masalah besar bagi umat Islam. Penghinaan terhadap Nabi Muhammad Saw tidak boleh dilakukan oleh siapapun bauk Muslim apalagi non Muslim. Di Masa Nabi Muhammad Saw ada pemimpin Yahudi, Kaab bin Al Asyraf, yang melakukan penghinaan terhadap Nabi. Kemudian Nabi Saw menghukumnya dengan hukuman mati dengan memerintahkan Muhammad bin Maslamah untuk mengeksekusinya.

Oleh karena itu sehubungan dengan dengan diproduksinya dan diedarkannya film “Innocence of Muslims” yang telah memicu kemarahan dan protes umat Islam di seluruh dunia, maka Forum Umat Islam (FUI) menyatakan:

1. Menolak film tersebut dan film-film lain yang menghina Islam.

2. Menuntut penulis skenario, produser dan sutradara film tersebut agar dihukum mati.

3. Menuntut siapapun yang mempunyai wewenang dan kemampuan agar mengeksekusi siapapun yang menghina Islam.

4. Menuntut pememerintahan dunia Islam agar menekan Amerika Serikat untuk tidak melindungi warganya yang menghina Islam.

5. Menyerukan umat Islam untuk bersatu padu menggalang kekuatan yang signifikan untuk mempertahankan kesucian Nabinya, kesucian Al Qur’an dan kesucian Islam. 


Jakarta, 1 Dzulqaidah 1433 H /17 September 2012 M
Forum Umat Islam


KH. Muhammad Al Khaththath
Sekretaris Jenderal

Sabtu, 15 September 2012

Menumbuhkan Kasih Sayang dan Persaudaraan

0 komentar

Beberapa tahun yang lalu salah seorang tetangga saya yang beda RW jatuh sakit. Selama beberapa hari lamanya dia harus mondok di rumah sakit untuk opname. Alhamdulillah, Allah Swt. menitipkan rezeki bagi saya dan keinginan untuk menengoknya. Berbekal uang 20 ribu rupiah, saya membeli beberapa bungkus kue untuk si sakit dan sisanya saya gunakan untuk uang transport.

Tidak lebih dari setengah jam saya berada di bangsal rumah sakit untuk menengok tetangga saya itu. Akan tetapi, efek positif yang saya dapatkan dari kunjungan yang singkat dan dari uang yang 20 ribu tersebut sangat luar biasa dan berjangka panjang. Sebelumnya, saya tidak begitu akrab dengan tetangga tersebut, hanya kenal biasa, dan tidak pernah berkomunikasi apa-apa selain say hallo saja saat mau pergi bekerja. Setelah peristiwa itu, silaturahmi di antara kami menjadi lebih intens. Kalau saya membutuhkan pertolongan, keluarga itu tidak segan-segan untuk menolong. Begitu pula sebaliknya. Ada keharmonisan dan nuansa baru dalam hubungan bertetangga yang dulu tidak pernah hadir. Semua itu berawal dari sedikit saja perhatian dan kasih sayang yang kita berikan ketika orang lain membutuhkannya.

Ada kisah lain yang lebih dramatis. Kali ini tentang seorang teman kost yang mengalami kecelakaan motor sehingga dia harus “mendekam” di rumah sakit tiga minggu lamanya. Dari sejumlah petugas medis yang merawatnya, ada seorang suster yang sangat intens dan telaten dalam merawat kawan saya ini. Dia pun, menurut saya, sangat sulit dibilang jelek … alias cantik. Bagi suster muda ini, merawat pasien bukan hanya tuntutan tugas, melainkan tuntutan hati nurani untuk meringankan beban sesama yang tengah dirundung musibah. Dia pun menganggap setiap kunjungannya kepada pasien adalah ibadah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah saw. Itulah mengapa setiap pasien yang ditanganinya merasa puas atas pelayanannya yang optimal, termasuk kawan saya dan keluarganya. Tidak lebih dari dua tahun setelah kejadian itu, datanglah undangan pernikahan kepada saya. Dalam kartu undangan tersebut tertera nama kawan saya dengan suster cantik yang sempat merawatnya tersebut .

Ada sejumlah kebaikan yang Allah Swt. tampakkan kepada kita melalui kisah ini, yaitu sembuhnya penyakit, bersatunya dua insan dalam tali pernikahan, dan terjalin eratnya hubungan kekeluargaan antara dua keluarga besar. Boleh jadi, inilah yang kelak akan mendatangkan berkah dan rahmat Allah bagi keluarga tersebut. Insya Allah.


“Tidak ada nikmat kebaikan yang Allah berikan setelah Islam selain saudara yang saleh. Jika kalian merasakan kecintaan dari saudaranya, peganglah kuat-kuat persaudaraan dengannya.” — Umar bin Khattab —

Amal Penguat Rasa Syukur

1 komentar

Ada dua nikmat yang seringkali dilupakan manusia, yaitu nikmat kesempatan dan nikmat kesehatan. Kedua nikmat tersebut baru terasa penting ketika dia hilang dari genggaman. Kita baru merasakan nikmatnya waktu luang ketika kita tengah dilanda kesibukan. Kita baru merasakan betapa besarnya anugerah masa muda ketika kita sudah tua renta. Kita pun akan merasakan nikmatnya sehat setelah kita sakit, nikmatnya mata normal setelah mata terserang penyakit rabun, nikmatnya lidah yang sehat setelah sariawan, dan seterusnya.

Untuk menjadi hamba yang bersyukur, idealnya kita selalu mengingat nikmat-nikmat Allah tersebut dalam setiap saat. Yang lebih utama tentu ketika kita sehat dan kuat. Tentu juga tidak sekadar ingat, kita bisa melangkah maju dengan memanfaatkan nikmat tersebut untuk beramal saleh, baik amal yang bersifat individu maupun amal yang bersifat sosial. Sayang sekali, tidak setiap orang mampu istikamah dalam menjaga sikap syukur nikmat tersebut. Terkadang kita lupa akan nikmat Allah, bahkan mengingkarinya.

Oleh karena itu, untuk menjaga ingatan akan besar karunia Allah berupa nikmatnya sehat, seseorang perlu diingatkan akan kondisi yang bertolak belakang dengan kondisinya sekarang ini. Salah satu cara yang paling efektif adalah dengan menjenguk orang sakit.

Dalam hal ini, seorang teman yang juga seorang penulis malah memiliki kebiasaan unik. Setiap dua sampai tiga kali sebulan sekali dia berkunjung ke rumah sakit, melihat orang-orang yang terbujur di bangsal, berdialog dengan beragam pasien, dan membawakan sedikit buah tangan untuk mereka. Bagi kawan saya ini, mengunjungi orang-orang yang tengah sakit tidak hanya menjadi sumber inspirasi untuk tulisan-tulisanya, akan tetapi—dan ini yang lebih penting—dia bisa bersyukur kepada Allah Swt. atas anugerah kesehatan dan kekuatan yang tengah dinikmatinya, mengingatkannya akan kematian yang tidak tahu kapan datangnya, dan menjadikan hatinya senantiasa hidup untuk ikut merasakan penderitaan orang-orang yang tidak seberuntung dirinya. “Vitamin jiwa itu ada di bangsal-bangsal rumah sakit,” ujarnya..

Siapa yang tidak mensyukuri nikmat Allah
sama artinya dengan berusaha menghilangkan nikmat itu.
Siapa yang bersyukur atas nikmat
berarti telah mengikat nikmat itu dengan ikatan yang kuat lagi kokoh.”

— Ibnu Atha’ilah —

Kamis, 13 September 2012

Axel, Putra Ayu Azhari yang Taat Agama

1 komentar

Wartaislam.com - Pemuda yang satu ini tengah duduk santai di sebuah masjid di Antapani Bandung. Ia berbalut sorban putih dengan jubah berwarna coklat muda. Ucapan bahasa arabnya ketika membacakan alquran dan hadits sangat fasih.
 
Selintas mungkin tidak akan menyangka bahwa pemuda ini adalah Axel Gondokusumo putra artis ternama Ayu Azhari dari suami pertama Wisnu Djody Gondokusumo yang meninggal pada 2002 lalu.
 
Axel begitu sapaan akrabnya mencoba berbagi dengan wartaislam perihal kehidupannya yang baru ia rasakan dua tahun belakangan ini. Ia menceritakan bahwa masa remajanya saat ia berusia 13 tahun sampai 18 tahun ia lalui dengan kebimbangan dan kehampaan.

Lama ia hidup di negara barat seperti Austarlia dan Amerika untuk mengenyam pendidikan, namun kebebasan ala barat lah yang ia rasakan. Padahal sewaktu kecil ketika dididik oleh ayah angkatnya Teemu Yusuf Ibrahim ia masih rajin mengaji.

“Saat saya pindah ke luar negeri, turunlah keimanan saya karena kebebasan dan pergaulan ala barat. Kehidupan saya bebas tapi ngga menemukan ketenangan. Kalau shalat jalan terus, karena sudah dididik dari kecil,” katanya.

Sepulang dari negara barat, kehidupannya masih tak berubah. Ia selalu pulang malam bahkan kadang tak pulang dengan berbagai alasan yang intinya menghabiskan waktu bersama rekan-rekannya. Apa yang ia mau dari ibunya pasti terpenuhi. Cuma sekali lagi ia tidak menikmatinya.

Saking bandelnya suatu saat ibunya sudah kesal dan memintanya untuk menemui om Irfan rekan almarhum bapaknya. Dari sinilah ia berkenalan dengan jalan dakwah. Axel diajak ke masjid di bilangan Cinere Jakarta dan ia menetap disana selama tiga hari. Peristiwa itu terjadi awal bulan April 2010 ketika usianya menginjak 19 tahun.

“Habis beres tiga hari ini hati saya terasa senang. Sangat nikmat sekali. Ketika pulang saya ngga mau lagi shalat di rumah, maunya di masjid. Saya akhirnya ikut lagi om irfan selama tiga hari tiap pekan,” kata Axel.
Tidak hanya berkeliling masjid saya pun berangkat pergi keluar negeri menikmati suasana dakwah diluar sana. Seperti di India, Bangladesh dan Hongkong,  “Saya bertemu dengan ulama-ulama disana yang rendah hati. Disana shalat subuhnya kayak shalat jumat,” tutur Axel.

Sampai akhirnya ia paham bahwa kesenangan dunia yang selama ini ia rasakan hanyalah sebuah tipu daya. Kesenangannya saat ini terletak pada perbuatan amal agama yang sempurna yang dicontohkan Rasulullah beserta para sahabatnya.***(WI-001)

Rabu, 12 September 2012

Menghitung Zakat Penghasilan

1 komentar

Bagaimana Cara Menghitung Zakat Penghasilan..
Simak di bawah ini.


Zakat penghasilan adalah semua pemasukan dari hasil kerja dan usaha. Bentuknya bisa berbentuk gaji, upah, honor, insentif, dan sebagainya, baik itu yang sifatnya tetap dan rutin maupun bersifat temporal atau sesekali.
Pada dasarnya, zakat wajib dikeluarkan setahun sekali. Seandainya telah diketahui berapa besar kewajiban zakat setahun, maka zakat dapat dikeluarkan setahun sekali saat haul. Sebagai patokan, dapat diambil tanggal kita mulai bekerja. Seandainya kita mulai masuk kerja pada 1 Juni, pada setiap tanggal tersebut kita harus melakukan zakatnya.

Mengingat jumlah kewajiban zakat yang cukup besar seandainya harus dikeluarkan sekaligus, maka sebagian ulama memperkenankan untuk dicicil per bulan. Zakat akan lebih baik lagi dikeluarkan dengan cara meminta bagian keuangan atau personalia memotongkan setiap bulannya secara otomatis (auto debet) untuk ditransfer ke lembaga amil zakat tertentu atau ke rekening khusus lainnya sehingga kita tidak akan lupa atau merasa berat.
Perhitungan zakat penghasilan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu

Pertama,menguranginya terlebih dahulu dengan keperluan hidup minimal untuk diri dan keluarga. Kita ambil contoh. (1) Dalam satu bulan, kita mendapat gaji bersih Rp15.000.000,00; (2) Kebutuhan pokok yang harus dipenuhi adalah sekira Rp10.000.000,00, maka kelebihan dari penghasilan adalah Rp5.000.000,00 per bulan (Rp15.000.000,00 – Rp10.000.000,00); (3) Apabila saldo rata-rata per bulan adalah Rp5.000.000,00, jumlah uang yang dapat dikumpulkan dalam waktu satu tahun adalah Rp60.000.000,00. Jadi, sudah melebihi nishab (asumsi harga 1 gram emas Rp200.000,00 sehingga 85 gram x Rp200.000,00 = Rp17.000.000,00). Dengan demikian, kita berkewajiban membayar zakat sebesar 2.5 persen dari saldo. Dalam hal ini, zakat dapat dibayarkan setiap bulan sebesar 2,5 persen dari saldo bulanan atau 2,5 persen dari saldo tahunan.

Kedua, mengalikan seluruh pendapatan dengan 2,5 persen dan langsung dikeluarkan zakatnya. Apabila dalam satu bulan, kita mendapat gaji Rp15.000.000,00 kita dapat langsung mengalikannya dengan 12 bulan, lalu mengeluarkan zakatnya sejumlah 2,5 persen. Dengan demikian, penghasilan kita setahun adalah Rp180.000.000,00 sehingga zakatnya adalah Rp4.500.000,00. Kita pun dapat membayarkan zakatnya per bulan, yaitu 2,5 persen dari Rp15.000.000,00 atau Rp375.000,00.

Kedua pendapat ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Bagi mereka yang pemasukannya kecil dan sumber penghidupannya hanya tergantung dari situ, sedangkan tanggungannya lumayan besar, pendapat pertama lebih sesuai untuknya. Pendapat kedua lebih sesuai bagi mereka yang memiliki banyak sumber penghasilan dan rata-rata tingkat pendapatannya besar, sedangkan tanggungan pokoknya tidak terlalu besar. Selain itu, walaupun zakatnya menjadi lebih besar, cara kedua ini lebih afdhal, terutama untuk menutupi kekurangan ibadah-ibadah yang kita lakukan.

Terkait besaran minimal dari penghasilan yang terkena zakat ini, ada perbedaan pendapat di antara para ulama. Sebagian mengqiyaskan kepada emas sehingga nishab wajib zakat adalah 85 gram x Rp200.000,00 = Rp17.000.000,00. Contohnya telah dikemukakan di atas. Pendapat lainnya adalah yang mengqiyaskan kepada pertanian. Artinya, pekerja atau pelaku profesi tertentu mengeluarkan zakatnya setiap kali menerima gaji atau penghasilan sebagaimana petani yang mengeluarkan zakatnya setiap kali panen. Nishab zakat pertanian untuk saat ini kira-kira adalah 5 wasaq yang setara dengan 300 sha atau 652,8 kg beras. Jika harga beras rata-rata adalah Rp5.000,00, nishab zakatnya adalah Rp3.264.000,00. 

Nah, apabila pelaksanaan zakatnya disamakan dengan jira’ah atau pertanian, zakat yang dikeluarkannya adalah ”setiap musim” sehingga dikeluarkan zakatnya antara 5-10 persen. Seorang dokter yang panen setiap sore, misalnya, ia dapat mengeluarkan 5 persen dari penghasilannya.

>SYARAT HARTA YANG WAJIB DI ZAKATI:

- Milik penuh artinya harta tersebut berada dalam kontrol dan kekuasaanya secara penuh, didapatkan melalui proses pemilikan yang dibenarkan agama, dan dapat diambil manfaatnya secara penuh. 
  • Berkembang, artinya harta tersebut dapat bertambah atau berkembang jika diusahakan atau mempunyai potensi untuk berkembang.
  • Memenuhi nishab, artinya harta tersebut telah mencapai jumlah tertentu sesuai dengan ketetapan syara.
  • Lebih dari kebutuhan pokok (kebutuhan minimal) yang diperlukan seseorang dan keluarga yang menjadi tanggungannya; untuk kelangsungan hidupnya. Artinya, apabila kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, yang bersangkutan tidak dapat hidup layak.
  • Bebas dari utang, artinya orang yang mempunyai utang sebesar atau mengurangi senishab yang harus dibayar pada waktu yang sama (dengan waktu mengeluarkan zakat), harta tersebut terbebas dari zakat.
  • Telah berlalu satu tahun (haul), artinya kepemilikan harta tersebut sudah berlalu (mencapai) satu tahun. Persyaratan ini hanya berlaku bagi ternak, harta simpanan, dan perniagaan. Sementara itu, hasil pertanian, buah-buahan, dan barang temuan (rikaz) tidak ada syarat haul.
  • Ketika Hatiku Bertasbih Memuji-Mu

    0 komentar

    --- SAMPAIKAN PESAN UMMI PADA ABIMU ---
    (SUNGGUH SAYA MENANGIS , TUBUHKU MERINDING KALA BACA INI !!! Kisah serangan udara tentara Israel kepada penduduk Palestine)

    Bismillaahir Rahmaanir Rahiim ...
    Ahmed putraku...
    Ummi tak tahu kenapa pagi ini kau bersikeras
    pergi ke pasar untuk belanja dapur kita
    Dimana biasanya Ummi yang melakukannya
    katamu,"Biar Ummi di rumah,
    Ummi mengaji saja di kamar
    Biar Ahmed yang pergi ke pasar
    Sekali ini saja."
    Kau sangat bersikeras ...Ahmed putraku
    Ummi tak ada prasangka padamu
    Lelaki kecilku yang dibanggakan Abimu juga aku
    Lalu kau pun pergi membawa keping logam tersisa
    Untuk ditukar dengan apa saja sekedar hidup hari ini
    Ummi lalu kembali larut dalam ayat Quran tercinta kita...
    Kemudian mendadak suara langit menggelegar...
    Pesawat dari neraka datang lagi...
    Diikuti dentuman keras terdengar...
    Serasa dekat di telinga Ummi
    Lalu tiba-tiba saja Ummi merasa khawatir denganmu...
    Lalu bergegas keluar rumah seperti para tetangga
    Ummi mencari tahu apa yang telah terjadi
    Semua berlari ke arah pasar tempat kau pergi...
    Ahmed putraku...
    Lalu ummi melihatmu terkapar di jalan...
    Diantara raga-raga tak bergerak lainnya
    Kau sekarat disana...Tanganmu saja yang bergerak
    Ahmed putraku...
    Ummi spontan membopongmu mencari pertolongan.
    Di mulutmu hanya ada suara...
    Suara yang sangat kita kenal...
    "Allah! Allah! Allah! Allah!"
    Lirih Lemah...
    Tapi menembus kuat hingga langit tertinggi
    Dan Allah ternyata memberi cinta di pagi ini padamu
    Juga pada Ummi lalu kubisikkan kata di telingamu,
    "Putraku tersayang, Sampaikan pesan Ummi pada Abimu di syurga bahwa ummi akan lanjutkan perjuangan kalian .
    Ummi akan teruskan perlawanan kalian.
    Selamat jalan Ahmed anakku terkasih
    Selamat jalan syahidku cintaku
    Ternyata Allah telah memanggilmu pagi ini
    Biarkan Ummi menangis terakhir kalinya
    mengantarmu pergi ke taman kehidupan sebenarnya
    dimana Abimu menunggu di pintu gerbangNya
    Tunggu Ummi ya nak, tunggu
    Kita kelak akan bersama lagi seperti dulu …
    Laa ilaaha illallah Muhammadarrasuulullah
    Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raajiuun…"