Sabtu, 15 September 2012

Amal Penguat Rasa Syukur


Ada dua nikmat yang seringkali dilupakan manusia, yaitu nikmat kesempatan dan nikmat kesehatan. Kedua nikmat tersebut baru terasa penting ketika dia hilang dari genggaman. Kita baru merasakan nikmatnya waktu luang ketika kita tengah dilanda kesibukan. Kita baru merasakan betapa besarnya anugerah masa muda ketika kita sudah tua renta. Kita pun akan merasakan nikmatnya sehat setelah kita sakit, nikmatnya mata normal setelah mata terserang penyakit rabun, nikmatnya lidah yang sehat setelah sariawan, dan seterusnya.

Untuk menjadi hamba yang bersyukur, idealnya kita selalu mengingat nikmat-nikmat Allah tersebut dalam setiap saat. Yang lebih utama tentu ketika kita sehat dan kuat. Tentu juga tidak sekadar ingat, kita bisa melangkah maju dengan memanfaatkan nikmat tersebut untuk beramal saleh, baik amal yang bersifat individu maupun amal yang bersifat sosial. Sayang sekali, tidak setiap orang mampu istikamah dalam menjaga sikap syukur nikmat tersebut. Terkadang kita lupa akan nikmat Allah, bahkan mengingkarinya.

Oleh karena itu, untuk menjaga ingatan akan besar karunia Allah berupa nikmatnya sehat, seseorang perlu diingatkan akan kondisi yang bertolak belakang dengan kondisinya sekarang ini. Salah satu cara yang paling efektif adalah dengan menjenguk orang sakit.

Dalam hal ini, seorang teman yang juga seorang penulis malah memiliki kebiasaan unik. Setiap dua sampai tiga kali sebulan sekali dia berkunjung ke rumah sakit, melihat orang-orang yang terbujur di bangsal, berdialog dengan beragam pasien, dan membawakan sedikit buah tangan untuk mereka. Bagi kawan saya ini, mengunjungi orang-orang yang tengah sakit tidak hanya menjadi sumber inspirasi untuk tulisan-tulisanya, akan tetapi—dan ini yang lebih penting—dia bisa bersyukur kepada Allah Swt. atas anugerah kesehatan dan kekuatan yang tengah dinikmatinya, mengingatkannya akan kematian yang tidak tahu kapan datangnya, dan menjadikan hatinya senantiasa hidup untuk ikut merasakan penderitaan orang-orang yang tidak seberuntung dirinya. “Vitamin jiwa itu ada di bangsal-bangsal rumah sakit,” ujarnya..

Siapa yang tidak mensyukuri nikmat Allah
sama artinya dengan berusaha menghilangkan nikmat itu.
Siapa yang bersyukur atas nikmat
berarti telah mengikat nikmat itu dengan ikatan yang kuat lagi kokoh.”

— Ibnu Atha’ilah —

1 komentar:

Posting Komentar